Daiwi Sampad

6.10.17

Cacing Tanah

Sumber Gambar : riaurealita.com

Kenangan itu merambati lekuk-lekuk arteri. Perlahan. Pelan. Terbawa oleh darah yang dipompa buru-buru oleh kardia. Serupa piston sepur yang diperbabu tanpa rehat barang sejenak. Kenangan itu membalut erat serupa musculus yang membebat belulang. Ketat. Layaknya petugas terminal yang menyelia barang bawaan para calon penumpang. Seolah tidak diizinkan kenangan itu menyusup melalui pori-pori yang kemudian menguap bercampur polusi udara ibu kota.

Kenangan itu adalah racun. Adalah toxic yang akan berbuah kanker jika dipiara. Adalah candu yang kuasa binasakan impresi. Adalah rabun yang samarkan netra. Adalah cendana pada akasia. Adalah landlord pada proletar. Adalah Belanda pada Hindia. Adalah Tunggul Ametung pada Tumapel. Adalah potas pada gereh.

Aku pernah dihinggapi kenangan yang bertransformasi menjadi rindu. Aku pernah rasakan rindu sepahit empedu. Rindu yang tak berbalas. Rindu yang jalari waktu yang bergerak perlahan. Yang membunuh jika dibiakkan, namun terlalu sayang untuk dibiarkan binasa. Sebuah rindu yang tidak kuinginkan keberadaannya. Aku tidak tahu mana yang lebih digdaya. Apakah diriku. Apakah rasa rindu ini.

Aku tidak kuasa menahan rindu yang terasa getir ini. Begitu pahit. Begitu menyakitkan.

Terdengar sapaan dari ujung sana. Suaranya. Aku menyerah. Kumatikan ponsel.


Bandung, Januari 2017