Daiwi Sampad

10.9.17

Sekali Waktu Ketika Hujan Turun

Sejenak kumatikan peranti pemutar lagu yang mengalun sejak pagi. Hujan turun. Baru saja. Aku ingin mendengarkan suara rinai hujan. Suara hujan pada atap. Suara hujan pada dedaunan. Suara hujan pada apa saja yang tidak berpayung.

Aku ingin gendang telingaku digetarkan dentum petir yang menyalak. Aku ingin ulu-hatiku bergetar setiap kilat menyambar. Aku ingin menghidu aroma hujan yang sedikit apak.

Aku tidak pernah menganggap hujan sebagai suatu yang romantis. Sungguh.

Bagiku hujan biasa saja. Tidak memuat kenangan tentang apapun. Baik manis atau pahit. Tidak membangkitkan gairah apapun. Baik romantis atau kecewa. Tidak membawa memori apapun. Baik indah atau getir. Hujan bagiku biasa saja.

Yang tidak biasa hanyalah rindu. Aku merindu hujan kali ini. Hujan yang dibayar kontan. Sesaat setelah hampir saja tewas terpanggang.

Aku merindu hujan seperti Jakarta yang aduhai panasnya beberapa hari ini.


Jakarta, September 2017