Daiwi Sampad

4.7.17

Banyak Lampu di Kota

Orang kota boleh jemawa mempunyai gedung-gedung penyabik angkasa. Orang kota boleh bangga pada gagahnya barisan pusat niaga yang mereka punya. Orang kota boleh tertawa kala awal bulan tiba. Orang kota boleh pongah ketika membopong hasil belanja membabi-buta. Orang kota boleh dabik-dada ketika anaknya justru tak pandai bahasa bunda. Orang kota boleh bangga ketika merasa berkuasa atas orang-orang desa.

Tapi, banyak lampu di kota. Orang kota tak bisa menyaksikan bintang ketika gelap tiba. Banyak asap di sana. Orang kota tak punya warna biru yang hiasi cakrawala. Banyak kendaraan bising di sana. Orang kota tak bisa nikmati nyanyian katak jantan gauli yang betina. 

Tidak ada embun pagi di kota. Yang ada hanya paranoia terlambat masuk kerja. Tidak ada air jernih di kota. Yang ada hanya sungai menghitam sisa buangan tinja. Tidak ada senandung burung di kota. Yang ada hanya tangis duka para melarat yang malu kembali ke desa.

Tidak ada apa-apa di kota. Selain lampu-lampu. Dan uang. Dan uang. Dan uang.

Dan uang.


Jakarta, Juli 2017