Daiwi Sampad

25.5.17

Kemarau di Malam Hari

Aku adalah kemarau yang tidak pernah cemburu pada hujan. Hujan yang dianggap sendu dan syadhu. Hujan yang menghantarkan berjuta kenangan pada benak-benak yang lengang. Hujan yang selalu berhasil menghasilkan puisi-puisi bernada puitik. Aku tidak pernah mencemburui hujan yang mampu membangkitkan dedaunan yang mati-suri.

Aku adalah malam yang tidak pernah cemburu pada senja. Senja yang selalu dianggap romantis. Senja yang mendentingkan urat-urat paling jago perihal afeksi pada mantik. Aku juga tidak pernah cemburu pada senja yang diselimuti cahaya lembut baskara jingga keemasan. Juga tidak cemburu pada senja yang menjadi taman bermain para Dewi Amor.

Aku hanya cemburu pada ia yang mampu membuatmu jatuh-cinta. Ia yang mampu meneduhkanmu dengan matanya. Ia yang kamu izinkan berenang bebas dalam bunga-tidurmu. Ia yang kamu perbolehkan mengusap air lara yang mulai meleleh di pipimu. Aku cemburu ketika kamu melepas kancingnya satu-persatu. Dan membisikkan kata cinta termesra yang kamu mampu ucapkan.

Aku adalah kemarau di malam hari. Tak apa, setidaknya aku masih ditemani oleh bulan yang bersinar keperakan. Dan orang-orang mulai bercinta seusai melepas lelah.

Jakarta, 25 Mei 2017