Daiwi Sampad

23.3.17

Kicau Burung Penyemai Padi

Aksi Protes Para Petani Kendeng di Depan Istana Presiden
Guna Menolak Pendirian Pabrik Semen di Rembang, Jawa Tengah
Sumber Gambar: media.viva.co.id

Apa bapak abai? Yang menggemuki lambungmu itu adalah anak-anak kami. Anak-anak yang merunduk ketika makin berisi. Bapak mungkin lalai? Yang meredam cacing-cacing berisik di perutmu adalah anak-anak kami. Anak-anak yang menjadi simbol keadilan bagi sosial di negeri ini.

Kami tidak mengharap upah selangit seperti kawan-kawan bapak di kota. Gubuk kami tidak perlu diberi pendingin ruangan seperti di kantor kawan-kawan bapak juga. Tidak usah pula beri kami sandang berbahan sutra, kami sudah cukup intim dengan kaus bergambar wajah bapak ketika kampanye silam. Tidak perlu juga bapak sediakan kami mobil berbagai merk. Kami cukup senang memintas telanjang kaki, atau menumpak pedati sesekali.

Bapak tidak perlu terjaga dalam pulas untuk memikirkan kami tidur beralaskan apa. Bapak tidak perlu menahan air liur guna pikirkan kami makan bertemankan apa. Bapak juga tidak perlu sibukkan benak guna berwalang hati ketika anak-anak kami mandek sekolah. Tidak perlu semua itu, pak..

Hanya saja tolong jaga sawah kami. Tolong lindungi gunung kami. Tolong rawat pepohonan kami.

Kami berjanji, seperti bapak berjanji. Kami tak akan biarkan perutmu rindu akan nasi. Asalkan kami tetap diizinkan menyemai padi.


Bandung, Maret 2017