Daiwi Sampad

9.1.17

Modern Life is Rubbish

Aku pernah berada di sebuah percabangan. Berdiri terpaku di antara alun manusia yang kalap. Membopong ransel yang gembung serupa bunda bunting tua. Menatap berjuta durja pada mereka sang pemburu kapital. Telah kusaksikan ribuan bulir peluh yang menetes dari dahi mereka yang kemudian menetes membasahi pertiwi. Berlomba dengan baskara sambil tak bosan menengok layar arloji. Riuh kendaraan yang telah pampat menjadi terompet akhir zaman setiap pagi.

Aku pernah berada di sebuah siklus yang tidak bersahabat. Domba menjadi anjing. Anjing menjadi serigala. Dan serigala menjadi maha-serigala. Satu daur ketika setiap kepala menjadi pemburu plano bercap duo proklamator. Tempo ketika pangkat lebih maslahat dibanding harkat. Masa ketika lelembut minggat akibat minder kepada polah anak-Adam. 

Kok ada yang kian nyetan dari kami? Kata setan.

Aku pernah berada di antara yang lebih animis dibanding para Apache penyembah totem. Yang berharap secuil remah kue duniawi. Yang menghamba tanggal muda. Yang merasa kuyu padahal belum berbunga. Yang acap berlomba dengan sangkala. Yang senang hati dikorve. Yang..

Adalah orang-orang yang tergesa.

Bandung, Desember 2016