Daiwi Sampad

9.1.17

Ajak [n] Anjing Hutan

Nusantara telah menjadi ajang sandiwara. Para bapa di istana mungkin amnesia pada janjinya ketika galang suara. Katanya Indonesia kaya raya, nyatanya hanya replika neraka bagi para pekerja beremunerasi di bawah dua koma. Mengaku membangun bangsa, padahal membawa petaka. Mengagungkan citra, padahal berujung gara-gara. Warga hanya bisa menganga terpedaya. Membuka luka lama ketika Cendana berkuasa.

Belum usai soal penista agama, kini muncul masalah dengan Cina. Belum lumat dicerna rasa trauma pada lambang perkakas bersilang dua, kembali Indonesia diterpa bencana dan airmata. Apa salah negeri kita? Bagaimana kata Jayabaya soal kesatria yang mandraguna? Yang katanya akan bawa Indonesia kembali berjaya? Puih, kapan kita pernah berjaya? Hanya merdeka sekali saja. Itupun setelah kurus sumberdaya oleh Belanda dan Matahari Asia.

Jangan banyak bermimpi, wahai para pemuda. Hai, yang katanya anak bangsa, kita bukan apa-apa dibanding mereka. Yang kini menjadi digdaya di dunia. Bukan hanya di Asia. Apalagi hanya tenggara. Kita hanya boneka para mulia berwajah dua nan jemawa. 

Mereka di singgasana bagai singa memangsa rusa. Menanti rakyat terlena untuk segera tabur cuka pada luka. Sambil tertawa hitung uang-jasa dari Amerika hasil menjual Papua. Tujuh kali kita ganti nahkoda; mulai dari pemuda Surabaya bersama Hatta, hingga pemuda Surakarta bersama Kalla. Apa kita sudah sejahtera? Tidak ada! Hanya merdeka. Itu saja. Sudah bangga.

Indonesia milik siapa? Milik mereka yang berkalang harta? Petani digusur tanahnya! Buruh dibuat tidak sejahtera! Yang bersuara dibuat tidak berdaya! Bahkan tidak bernyawa. Kami menolak lupa!

Kasihani kami yang mulai pasi menanti nasi. Bayi kami merengek mengais asi si umi yang mulai ringkai tak berisi. Lantas di mana para priyayi bertaji janji? Oh, sedang menari di pesta demokrasi.

Ditutup dengan rima “i”, karena cape calangap..

Bandung, Januari 2017