Daiwi Sampad

17.12.16

Senyum dari Pantai Utara

Ibarat kapal phinisi yang mulai bentangkan layar. Lelampu mulai dinyalakan. Tiada benderang. Remang-remang saja kata orang. Biar bagaimana, laron dan sebangsanya berduyun hampiri pendar pelita. Candra menggantung malas pada tawang. Gemintang berkelip malu di antara awan pirau. Seruan salat dari surau sudah tinggal. Saatnya para kupu-kupu unjuk aksi guna tarik para juru kemudi. Seperti lampu yang memikat laron.

Digoda senyum berbalut gincu semerah saga, prahoto kontan diparkir di muka kedai. Berjajar-berbaris bagai semut rindukan sukrosa. Lepas lelah perjalanan dalam dekapan tubuh-tubuh sintal yang aduhai. Halau angin ganas dengan selimut bernyawa. Irama dangdut dari Sang Raja susupi asap kretek murahan. Aroma Bintang usik serangga yang turut turun pesta. Gelak para pejantan setiap dirayu soal kegagahan. Cekikik betina setiap digoda ihwal pinggul dan dada. Malam ini milik mereka. Malam esok milik mereka. Malam kemarin milik mereka.

Menjelang penghujung malam, irama Rhoma disubstitusi suara erangan. Lolongan juga rintihan. Bilik-bilik cinta berderit dari pecinta yang tukar keringat. Bayu malam hantarkan pesan cinta singkat tanpa hasrat yang mengikat. Saling tindih-menindih. Kulit dengan kulit. Rambut dengan rambut. Larut hanyut tanpa ada yang membalut. Semua asal abang senang. 

Malam berlanjut hingga dini menyambut. Kupu-kupu berpulang pada katil. Menyasap perona yang lekati paras. Simpan kembali senyuman guna esok malam. Perhelatan masih akan berlanjut..


Bandung, Desember 2016