Daiwi Sampad

15.12.16

Salam dari Tepi Kota Industri

Kota Industri
klikbekasi.co

Ada siklon yang kembali dihembuskan Sang Maha Segalanya. Ada asa yang kembali diikat tanpa mesti terputus predestinasi. Ada rasian yang tidak harus terputus oleh bangun. Merekah kusuma di pagi hari, berarti menyambung kehidupan di hari itu pula. Hilangnya gemintang oleh syamsu, bukan berarti matinya suatu kehidupan. Ia cuma menggaib sejenak, lantas kembali petang. Mirip buruh kuli yang lunglai di balik mesin pencetak periuk dan menanti tanggal muda.

Periuk kelompang serupa isi perut. Kartika tiba dengan gugusnya. Orok tak mampu merengek, hisapi tetek ibunda yang kerontang. Buruh kuli tangisi dapur yang lama tak ditamui asap. Buruh kuli tangisi bini yang tagih janji geraham emas ketika muda di Binaria.

Ingin akhiri hari dengan beradu di dipan untuk usir payah. Tapi perut nyanyikan keroncong saingi nyamuk yang kian gemuk. Ingin bermimpi pun silang selimpat. Butuh kapital bakal Baygon.
 
Jagat tertawai nasib. Nasib tuding balik nafsi yang nahas. Andaikata nasib buruk bisa ditukar nasi, tambunlah dirinya. Tirta payau basahi pipi. Lagi. Andaikata airmata bisa ditukar nasi, sehatlah bayinya. Lolong ajak sayup terdengar. Tanda hari akan tanggal. Tagih esok hari, teringat priuk-priuk yang berjejal menanti ditempa. Juga cukong kacak pinggang di samping mesin bergemuruh.

Teringat tanggal muda. Teringat priuk penuh nasi. Teringat goreng kepala ayam. Teringat petai teringat sambal. Ah, sudah lama..


Bandung, Desember 2016