Daiwi Sampad

24.12.16

Mykonos

Aku tidak pernah menganggap hidup ini istimewa. Hidup ini merupakan petaka. Seperti pernah kudengar, nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Aku tidak berharap menjadi istimewa. Aku tidak ingin menjadi Yang Maha. Aku hanya ingin mejadi serdak. Tidak diperhatikan oleh sesiapapun. Tidak mengganggu sesiapapun.

Aku tidak kecut menjadi sendiri. Tuhan pun menjadi Yang Maha Segalanya karena sendiri. Aku tidak membutuhkan kamu. Tidak juga kalian. Aku membenci insan seperti aku membenci kecap pada bubur. Ingin kukutuk Hawa yang menjelma menjadi kekasih Adam. Lebih kukutuk iblis yang tidak berdaya mengeyahkan Adam dan Hawa. Aku benci semuanya. Aku benci segala bentuk kepasrahan yang mengatasnamakan sistem takdir.

Aku mulai jengah dengan segala omong-omong dan haha-hihi. Aku mulai bosan dengan segala perihal cinta dan mengawang tentang anak yang lucu. Aku mulai muak dengan tatanan sosial dan segala kaidah yang omong-kosong. Aku mulai jemu dengan segala Tuhan dan pengikut-pengikutnya.

Aku hanya membutuhkan baskara yang terbenam. Juga segelas besar teh pahit dingin. Dan sebungkus tembakau bercap koboi.


Bandung, Desember 2016