Daiwi Sampad

21.11.16

Surat dari Buitenzorg

Het paleis van de Gouverneur-Generaal in Buitenzorg (1870)
commons.wikimedia.org
Aku tinggal di kota hujan. Kota yang tidak pernah berhenti diguyur air. Kota yang tanahnya tidak pernah dengkel. Kota yang penuh dengan guguran daun. Kota yang rumputnya selalu subur, sekaligus membuat repot petugas taman. Kota yang rindu akan hangatnya cahaya matahari.
 
Mahkota dandelion tidak pernah bertahan lama. Selalu luruh disapu bulir air. Dedaunan tidak pernah berhenti menari digoda para pasukan dari langit. Beberapa di antara dedaunan yang beruntung akan berhasil bertahan di ujung ranting untuk sekian waktu. Sebagian apes lainnya sudah terkapar di atas tanah. Menanti nasib buruk terlindas pejalan kaki atau menunggu busuk menjadi humus. Suara alun sungai menjadi spektakel orkes yang tidak pernah usai. Menalu tambur pendengaran setiap orang di sudut kota. Riuhnya mengalahkan pasar lelang.
 
Menjelang sore hari, selarik mega kelabu kembali bertamu. Berusaha merintang sinar baskara yang dirindui. Kelabu mengemul seantero kota. Rinai hujan tiba. Bau tanah menggelitik penghidu. Jendela bias diterpa hujan terbawa angin. Bangat, para pejalan berlindung di bawah kanopi toko-toko roti dan kue milik tionghoa. Beberapa di bawah atap kantor pos. Beberapa tertahan di dalam bendi. Lainnya membentangkan payung.

Segera kutulis sepucuk surat. Surat yang selalu kurangkai ketika hujan terjun ke bumi. Kugoreskan pena pada kertas. Menjalin huruf-huruf yang terlahir berkat rindu. Rindu yang tidak mengenal ampun. Rindu yang hadir tanpa perlu diundang. Rindu yang mengalir deras tanpa bisa dibendung.

Persis hujan di kota ini.


Bandung, November 2016