Daiwi Sampad

1.11.16

Prosa dari Selatan

Meditation Spot on My Room
Tidak ada bintang yang berkelip manja malam ini. Langit bewarna hitam pekat. Sepekat cangkir kopi yang telah tandas dan hanya menyisakan dedak di dasarnya. Langit polos tanpa riasan. Hanya sesekali terlihat lampu pesawat terbang yang menuju dan meninggalkan bandar udara yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Cahaya lampu pesawat yang menyorot kegelapan seolah membelah langit. Meski begitu, langit tetap keras kepala pada gelap. Tidak ingin menyibak dan menunjukkan gemintang.

Malam sudah mulai memasuki puncaknya. Kesunyian membungkus tanpa ampun. Hanya musik melankolik dengan nyanyian lirih yang mengalun dari alat pemutar musik. Sesekali terdengar orkestra kawanan jangkrik dari balik rumput di halaman. Kunikmati kesenduan yang merundung ruang kerjaku ini. Ruangan yang kuibaratkan sebagai kuil suci. Tempat ternyaman sekaligus sakral di atas muka bumi.

Hampir sepanjang malam aku bergelut dengan rasa malas di atas sofa. Aku tidak ingin melakukan apapun. Sempat kubolak-balik halaman novel yang belum usai. Namun pikiranku tidak pada baris huruf di dalamnya. Berkali kucoba untuk menulis. Merampungkan artikel yang seharusnya esok siang sudah berada di tangan editor. Lagi-lagi, pikiranku wisata tanpa arah. Tidak pada tuts laptop. Rasa malas memenangi pertandingan ini dengan skor telak. Aku hanya ingin berbaring. Mendengarkan lagu dalam remang. Dari atas sofa di salah satu sudut.

Sesekali kuizinkan mata terpejam. Membiarkan musik-musik menggelitik gendang telingaku. Mempermainkan jaringan dalam rongga pendengaranku. Mendetingkan setiap syaraf dengan nada-nada minor yang memabukkan. Mengaburkan segala realitas yang berlangsung di sekelilingku. Mengabaikan lampu duduk yang mulai berkedip hampir putus. Mengacuhkan nyanyian jangkrik yang sekuat tenaga merayu. Aku jatuh cinta. 

Jatuh cinta pada keheningan.


Bandung, Oktober 2016