Daiwi Sampad

6.10.16

Indonesia yang Mudah Bangga

Saya baru saja menyaksikan sebuah tayangan berita mengenai popularitas tempe di Amerika. Berita tersebut bercerita bahwa kini, tempe sudah menjadi menu favorit pada banyak restoran di Negeri Paman Sam tersebut. Bahkan, tempe tergolog ke dalam makanan mewah. Selain sehat, orang-orang bule menilai tempe adalah makanan dengan daya fleksibilitas yang tinggi, bukan karena bisa melar, tetapi karena dapat diolah menjadi banyak varian. Makanan asli Indonesia yang dianggap makanan “rakyat” di negerinya sendiri tersebut, ternyata dianggap spesial di negara lain.

Melihat berita tersebut, teman-teman saya langsung sorak. Bangga. Apalagi ditambah bumbu dari voice over yang mengisi berita tersebut, bahwa sudah sepatutnya orang Indonesia bangga terhadap tempe. Kenapa harus bangga? Ya jelas. Makanan khas Indonesia dimakan bule! Woohoo!

Padahal, di Indonesia sendiri berserakan rumah makan cepat saji asal Amerika. Orang Indonesia justru bangga makan ayam goreng tepung dengan kentang goreng, atau burger berlapis-lapis. Padahal di Amerika, makanan tersebut disebut junk food. Makanan sampah. Penuh kolesterol. Tidak sehat. Murah. Dan biasanya dikonsumsi oleh para sopir truk karena sifatnya yang praktis dan cepat membuat kenyang. Apa Amerika bangga? Sampai dibuat beritanya gitu? Mc Donald, atau KFC, ada di Indonesia lho! Tidak.

Sebenarnya tempe bukan satu-satunya fenomena yang membuat penduduk Indonesia cepat bangga. Pasti Anda tidak asing dengan selebritis keturunan Indonesia, atau atlet keturunan Indonesia, yang membuat heboh seantero negeri. Ambil contoh Radja Nainggolan. Seorang pemain sepak bola asal Belgia yang memperkuat kesebelasan AS Roma. Ayah Radja, Marianus Nainggolan, merupakan orang Indonesia yang berasal dari suku Batak. Sedangkan ibunya, Lizy Bogaerts, seorang Belgia tulen. Karena ditinggal ayahnya sejak anak-anak, Radja dibesarkan sebagai warga negara Belgia.

Namun apa yang terjadi ketika nama Radja Nainggolan mencuat? Indonesia dibuat heboh. Bangga akan Radja yang bermain sepak bola di level dunia. Bahkan ketika Radja mengunjungi Indonesia, segala macam sambutan digelar. Tumpengan. Potong kambing. Syukuran. Potong pita. Sumpah pocong. Semua dilakukan. Jadwal Radja mendadak padat karena diundang ke berbagai acara bincang-bincang di televisi. Bangga tidak terperikan pokoknya. Lebih bangga dibanding ketika berhasil menembus IPK 3.

Lalu apa Radja juga merasakan hal yang sama dengan kebanyakan warga Indonesia? Saya rasa belum tentu. Ayahnya yang orang Indonesia itu justru meninggalkannya dengan sang ibu.

Serupa tapi tak sama juga dialami Pierre Coffin. Sutradara dari dua film Despicable Me, dan Minions. Nama lengkapnya Pierre-Louis Padang Coffin. Lho, lho, lho, kok ada ‘Padang’-nya? Ya betul! Ada darah Indonesia di dalam urat nadi Pierre Coffin. Sila bersorak! Yeay! Tetapi sebenarnya Pierre adalah warga negara Perancis lho. Ya nggak apa-apa, yang penting ada Indonesianya, yeah! Aku bangga ya Tuhan!

Rasa bangga masyarakat Indonesia yang membuncah begitu mengetahui sutradara film-film lucu tersebut belum usai. Di dalam film Minions (2014), ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang terselip pada dialog antar-minion. Makhluk kuning lonjong lucu nan unyu itu terdengar beberapa kali menyebut kata seperti “terimakasih” atau “masalah”. Media-media massa ketika itu penuh dengan kisah sutradara blasteran ini. Bangga bukan main Indonesia.

Padahal, ibunya, NH Dini, merupakan seorang novelis jempolan yang eksis berkarya sejak tahun 70-an tidak begitu banyak disinggung. Melalui karyanya, NH Dini berhasil menyabet SEA Write Award di bidang sastra dari pemerintah Thailand. Melalui sederet karyanya yang sarat akan pandangan feminis, NH Dini sempat menyindir pemerintah Indonesia yang kurang menghargai jasanya di dalam bidang sastra. Padahal, menurut saya, NH Dini lebih patut untuk dibanggakan ketimbang “Papoy.. Papoy.. Bananaaa”.

Ada lagi yang lebih lucu. Ketika film The Raid (2011) muncul dan mendapat respons baik dari masyarakat internasional, saya melihat komentar-komentar orang Indonesia di situs berbagi video yang memuat cuplikan film tersebut. Komentarnya beragam meskipun hampir semuanya menyerukan kebanggan terhadap Indonesia yang akhirnya (baca: akhirnya) mampu membuat film layak tonton. Komentar-komentar yang bernada bangga berlebih tersebut sempat membuat bule-bule bingung. Pertama karena banyak komentar yang menggunakan bahasa Indonesia, dan kedua, mereka bingung kenapa orang-orang ini bangga seperti kesetanan?

Bangga boleh. Jelas bangga. Siapa yang tidak bangga melihat aktor-aktris Indonesia berlaga di film yang ditonton oleh bule? Tapi ya mbok nggak usah segitunya. Biasa saja. Nggak perlu lebay. Toh orang-orang bule juga yang jutaan filmnya ditonton sama kita, biasa saja. Nggak ada tuh yang komentar “Ini film Amerika lohhhhhhh!! Keren kan?!” Dan satu lagi, Gareth Evans, sutradara The Raid, itu warga negara Wales lho. Ppffftt.

Sebenarnya masih banyak hal yang membuat orang Indonesia mudah bangga. Dan hal tersebut kebanyakan nggak penting. Nggak perlu bangga dengan hal-hal kecil seperti itu kalau masih sombong menggunakan produk-produk luar negeri. Nasionalisme tingkat dewa kalau boleh saya sebut. Hal-hal yang seharusnya lebih layak untuk dibanggakan, justru malah dilupakan. Setelah di-klaim oleh negara lain, baru mencak-mencak.

Tapi tunggu sebentar. Tunggu. Saya baru menyadari, warna bendera Indonesia, merah-putih ada di dalam bendera Amerika, Belanda, Italia, Inggris, dan Perancis lho! Wohhhh aku bangga!


Bandung, 01 Oktober 2016