Daiwi Sampad

6.10.16

Abate, Oh Abate

Sepulang kerja beberapa waktu lalu, saya dan beberapa orang teman melakukan ritual tengah malam seperti biasa; ngobrol di warung kopi. Tapi tidak nyentil sana dan sini. Yang namanya ngobrol di Warkop ya tentu ngalor-ngidul. Namun ada yang di luar kebiasaan dengan topik pembicaraan kami malam itu. Yang tetap biasa hanyalah bermangkuk-mangkuk Indomie rebus porsi jumbo lengkap dengan telur, dan teh manis hangat.

Di luar kebiasaan karena yang menjadi bahan obrolan bukan sekitar Pilkada DKI Jakarta, atau persidangan kasus kopi bersianida, atau tentang video clip Awkarin yang aduhai itu. Bukan. Bukan topik seremeh itu. Ini lebih berat lagi. Dengan tingkat urgensi yang tinggi. Yaitu, tentang bubuk Abate.

Bagi yang belum pernah mendengar bubuk Abate, saya jelaskan sedikit. Abate bukanlah kata dalam bahasa Jepang. Bukan juga nama ilmiah dari jenis-jenis fungi. Bukan juga nama makanan dari Slovakia, misalnya. Abate adalah sejenis bubuk kristal padat yang sangat efektif untuk membunuh jentik nyamuk dan insekta air lainnya. Abate sebenarnya hanya nama dagangan dari temefos insektisida, dari golongan organofosfat. Nah lho..

Lalu kenapa di tengah malam, setelah lelah melakukan romusha, kami malah membicarakan tentang Abate? Kayak kurang kerjaan saja. Namanya juga ngobrol di Warkop. Ya bebas dong. Nggak perlu repot-repot dikonsep. Apalagi dibikin rumusan masalahnya dulu. Intinya ketika itu, kami sedang membahas tentang berbagai modus penipuan. Tentunya diawali dari topik seputar MLM. Lalu nyambung lah kepada si Abate ini. Tipu dari segala tipu daya.

Di beberapa kota, sering ditemui para penjual bubuk Abate yang berkeliling dari rumah satu ke lainnya. Mereka biasanya mengaku sebagai PNS utusan dari Dinas Kesehatan, atau pegawai kelurahan. Bermodal muka badak dan kepolosan calon pembelinya, para oknum ini biasanya muncul dengan sederet cerita yang mengerikan. Seperti wabah demam berdarah, chikungunya, atau penyakit kaki-gajah.

Tidak jarang juga yang menggunakan modus pendataan. Mereka pura-pura mendata anggota keluarga di rumah tertentu, lalu menanyai seputar tempat-tempat penampungan air yang memungkinkan tumbuhnya jentik-jentik nyamuk. Tentu saja cerita dan modusnya tidak benar. Setelah itu kertas yang mereka pergunakan untuk mendata mungkin akan berakhir di pedagang gorengan sebagai bungkus cireng.

Setelah blablabla-nya dirasa cukup, mereka lantas menawarkan sebuah solusi. Tidak lain dan tidak bukan adalah bubuk Abate. Biasanya mereka mengelurkan produk jebakan tersebut dalam bentuk paketan tertentu. Setelah itu, penyuluhan gratis kembali digelar. Kali ini mengenai fungsi bubuk Abate, cara penggunaannya, hingga sifatnya yang tidak berbahaya bagi kesehatan. Padahal, semua yang mereka jelaskan sudah tertera di balik setiap kemasan Abate. Kemudian, setelah dirasa cukup, mereka mengeluarkan jurus pamungkasnya. Sekaligus acara puncak dari seminar kilat tersebut. Mereka memaksa empunya rumah membeli bubuk Abate.

Harganya tidak main-main. Satu paket Abate bisa dihargai hingga Rp50.000. Jika kita menolak, oknum tersebut akan menurunkan harganya. Jika menolak lagi, turun lagi. Terus begitu hingga korban menyerah dan membeli bubuk tersebut meskipun dalam bentuk eceran. Yang mengejutkan adalah, di luar caranya yang sangat buruk dalam menyampaikan penyuluhan, oknum-oknum Abate ini justru super-lihai dalam proses tawar-menawar. Persis ibu-ibu di pasar. Gawatnya, penjual bubuk Abate kebanyakan adalah ibu-ibu. Dan lebih gawatnya lagi, biasanya ibu-ibu tersebut berdua bersama temannya yang juga ibu-ibu. Bayangkan ada ibu-ibu dan ibu-ibu. Empat kali lipat ibu-ibu. Dan kita dipaksa harus melakukan kegiatan tawar-menawar dengan mereka. Cobaan macam apa.

Lucunya, praktik transaksi Abate ini juga sering dialami oleh para mahasiswa. Dulu, ketika masih kuliah, teman-teman saya yang ngekos juga sering menjadi sasaran penjual Abate. Saking muaknya, beberapa mahasiswa di Jatinangor sampai rela membuat stiker yang bertuliskan “Kami Sudah Punya Bubuk Abate!”. Kemudian ditempel di pintu-pintu kamar. Lihat? Betapa kejinya para penjual bubuk Abate ini. Mahasiswa yang makan saja hanya dengan nasi putih ditabur garam, harus dipaksa membeli Abate seharga sekian puluh ribu. Sampai beberapa teman kuliah saya berseloroh, gimana kalau garamnya kita ganti dengan Abate saja?

Menyebalkannya, jika kita tidak membeli bubuk Abate tersebut, penjualnya tidak mau beranjak dari depan pintu. Mereka-mereka ini adalah perwujudan dari kata keras kepala sekaligus pantang menyerah. Padahal, bubuk Abate bisa didapatkan secara gratis. Ya, Anda tidak salah baca; gratis. Tis. Di Puskesmas terdekat. Abate dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Nah! Terlebih ketika musim hujan seperti sekarang. Siap-siap saja pintu depan rumah Anda akan diteror oleh penjual Abate yang menghantui.

Itulah mengapa para penjual Abate yang mengatasnamakan PNS Dinkes, atau pegawai kelurahan, atau utusan Darth Vader ini tergolong pada tindak penipuan. Banyak korban yang akhirnya membeli Abate bukan atas dasar butuh, melainkan karena ingin si penjual cepat-cepat enyah dari rumahnya. Kalau perlu, enyah dari muka bumi ini.

Begitulah sekelumit tentang bubuk Abate yang menjadi momok bagi banyak orang. Bahkan tidak sedikit yang menganggap penipuan berkedok Abate lebih menyebalkan ketimbang SMS "mama minta pulsa".

Karena ketidak-tahuannya, banyak orang yang kemudian menjadi korban bubuk tersebut. Termasuk saya. Di rumah, saya masih punya banyak stok Abate hasil kalah tawar-menawar. Sempat terpikir jika datang lagi penipu-penipu tersebut, saya akan sambut dengan ramah. Menyuruhnya duduk manis di ruang tamu. Kemudian menyeduh kopi yang dioplos Abate. Lalu disuguhkan. Siapa tahu bisa menggantikan kasus kopi bersianida, dengan kopi berabate?

Jakarta, 26 September 2016