Daiwi Sampad

19.8.16

Jika Bung Hatta Masih Hidup Hari Ini

Di hari kemerdekaan kemarin, ketika masih terlelap dalam tidur, sedangkan kebanyakan orang sudah berbaris di lapangan untuk upacara bendera, saya bermimpi. Dalam mimpi tersebut, saya bertemu dengan Bung Hatta. Meskipun saya hanya mengenal rupa Bung Hatta hanya dari foto jadul berwarna hitam-putih belaka, entah mengapa di mimpi tersebut saya seperti mengenal dirinya. Di alam mimpi saya, Bung Hatta terlihat tengah bersedih. Ia terduduk seorang diri di sebuah kursi kayu di dalam ruangan yang menyerupai sebuah kelas di sekolahan. Kami tidak berbincang. Saya hanya berdiri sekian meter di hadapannya. Menatap salah seorang tokoh proklamasi kita yang sedang dirundung kesedihan itu.

Ketika terbangun, tubuh saya bersimbah peluh, kepala serasa pening, dan napas saya memburu. Bukan, bukan karena mimpi tersebut atau mendapat wangsit, namun kipas angin lupa saya nyalakan. Jakarta cukup gerah pagi itu. Setelah menyalakan kipas angin, saya kembali berbaring sembari membayangkan apa yang membuat Bung Hatta bersedih. Lebih herannya, mengapa ia bersedih di hari ulang tahun republik ini, yang seharusnya disambut dengan suka-cita. Mengapa saya harus memimpikan Bung Hatta? Bukannya Soekarno, atau Napoleon.

Jauh di lubuk hati, saya sangat mengagumi sosok Bung Hatta, melebihi rasa kagum terhadap diri sendiri ketika tengah becermin. Saya selalu membayangkan, jika Bung Hatta masih hidup hingga hari ini. Seorang jujur, adil, sederhana, jenius, berkarakter, sekaligus serius, yang belum tentu akan lahir 100 tahun sekali di negeri ini. Jika kata “negarawan” butuh representasi, maka saya akan mencalonkan Bung Hatta.

Di Indonesia hari ini, segalanya terasa bobrok. Terutama dalam sistem pemerintahan dan politik. Korupsi, kolusi, dan nepotisme hampir dianggap lumrah. Sehingga jika ada petinggi negara yang tertangkap melakukan KKN, rakyat hanya akan berkata “Ooh”. Dagelan politik yang terjadi juga semakin tidak lucu. Saling serang antar pejabat atau politikus menjadi tontonan yang tidak kalah seru dibanding Srimulat. Belum lagi tentang pejabat yang tertangkap basah tidur disaat bekerja, menonton video porno, hingga menjadi pemerannya bersama seorang selebritis.

Indonesia hari ini tidak memiliki sosok pemimpin yang dapat dipercaya. Tidak ada sosok mesias, juru selamat bagi negeri ini. Kalaupun kebetulan terdapat orang-orang “bersih”, maka akan disingkirkan dengan mudah. Sekarang semua orang memiliki kewenangan yang absolut untuk memfitnah dan menebar kebencian.

Kembali pada Bung Hatta. Jika Bung Hatta masih hidup hari ini, saya yakin, ia akan berada pada daftar orang-orang yang disingkirkan. Sekira tahun 50-an, Bung Hatta yang ketika itu masih menjabat sebagai wakil presiden, pernah mengeluarkan kebijakan untuk memangkas nilai mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia) dari 100 menjadi 1. Kebijakannya tersebut mendapat pertanyaan dari sang istri, Rahmi Rachim. Karena dengan adanya kebijakan tersebut, Rahmi terpaksa gagal membeli mesin jahit yang sudah lama diidamkannya. Hatta sebagai suami, tentu paham betul perasaan istrinya. Namun ia mengatakan, “Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?”

Sikap tersebut tentu akan sulit ditemui pada sosok pejabat manapun sekarang ini. Mereka yang berkuasa belakangan, justru akan bertindak sebaliknya. Persetan dengan rakyat, yang penting keluarga gue aman. Anak gue pake mobil mewah, sekolah di luar negeri, punya gurita bisnis yang lebar, dan nanti kelak akan menggatikan posisi gue di pemerintahan. Tolong siapkan keranjang sampah, karena pejabat se
macam itu cocok berada di dasarnya.

Pada usia muda, Bung Hatta sudah berorganisasi demi kemerdekaan Indonesia. Tidak jarang dirinya keluar-masuk persidangan dan penjara/pengasingan karena pemikirannya. Bahkan pers Jepang menjuluki dirinya sebagai “Gandhi of Java”. Selain menjadi kutubuku, ketika masih berstatus pelajar di Belanda, dirinya aktif dalam organisasi Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia Belanda) bersama Tjipto Mangoenkoesoemo, Ki Hajar Dewantara, Soekiman Wirjosandjojo, dan kawan-kawan. Ketika itu mereka melakukan sesuatu yang cukup radikal, yaitu mengubah nama organisasi mereka dari "Indische Vereeniging" menjadi "Indonesische vereeniging" yang kemudian berubah menjadi "Perhimpunan Indonesia".

Mungkin mengubah nama organisasi seperti sepele. Seperti mengubah nama Facebook kalian dari 4L4y menjadi normal, atau sebaliknya. Tetapi, ketika itu, mengubah nama organisasi berarti menyuarakan istilah Indonesia untuk pertama kalinya dalam organisasi geopolitik. Meskipun sebelumnya pernah disuarakan oleh Tan Malaka dalam bentuk buku. Namun, pada intinya, tindakan mereka adalah suatu pemberontakan pada Belanda.

Selain itu, Hatta juga aktif dalam berbagai organisasi dan berbagai konferensi internasional untuk memperjuangkan tanah airnya. Hatta juga rajin menyuarakan kemerdekaan melalui tulisan yang dimuat pada banyak surat kabar. Sama rajinnya dengan anak-anak muda hari ini dalam update status, atau pamer di media sosial. Satu hal lagi, Hatta juga bertekad untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Hal tersebut merupakan perjuangan terhadap dirinya sendiri, yang menurut saya justru paling sulit melawan ego sendiri. Berbeda dengan kalian yang baru jomblo dua hari saja, rasanya sudah pingin bunuh diri.

Saya tidak akan memuat semua hal tentang Hatta dalam tulisan singkat ini, karena tidak akan muat. Yang bahkan kisahnya telah dibukukan beribu-ribu halaman banyaknya. Yang jelas, jika Bung Hatta hadir di tengah kita hari ini, saya kira, ia akan menjadi sosok penyelamat, sebagai tokoh yang dapat dipercaya sebagai juru selamat untuk memperlambat kehancuran negeri ini. Namun, Bung Hatta, sekaligus akan cepat disingkirkan oleh mereka yang bertentangan dengannya.

Mungkin hal itulah yang membuat Bung Hatta bersedih di dalam mimpi saya. Ia bersedih, karena perjuangannya yang tidak mudah, justru harus dirusak dan tidak dihargai oleh penerusnya sendiri. Sosoknya sendiri justru hanya dihargai melalui lembaran uang belaka.

Selain berusaha menerka hal apa yang membuat bung satu itu bersedih, saya cukup heran mengapa harus bermimpi demikian rupa saat 17 Agustus. Seolah mimpi saya bisa diprogram sesuai dengan tema-tema tertentu seperti dalam film Inception. Seketika, terbesit sedikit rasa sesal, mengapa saya tidak memprogram mimpi saya agar bertemu dengan Chelsea Islan atau Raisa, misalnya. Bukan Bung Hatta.


Bandung, 18 Agustus 2016