Daiwi Sampad

31.7.16

Virus Ganas Bernama Manusia

Beberapa hari lalu, ketika berangkat kerja, saya menyadari sesuatu yang berbeda. Beberapa pohon yang biasanya meneduhi saya ketika berjalan di trotoar menuju kantor, sudah hilang begitu saja. Padahal, hari sebelumnya, saya yakin, pohon-pohon tersebut masih berdiri gagah di sana. Hanya butuh waktu semalam saja untuk menghilangkan pepohonan tersebut. Seperti ketika alien membuat crop circle. Siang itu, yang tersisa hanya bonggol-bonggolnya saja yang sedang berusaha dicabut oleh para tukang. Hari ini mungkin sudah hilang seluruhnya. Saya jadi teringat. Dulu ketika pertama kali bekerja di sana, trotoar di depan kantor banyak ditumbuhi pepohonan yang berderet dan cukup rindang. Sekarang, jangan harap. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, kini pepohonan tersebut sudah raib semua. Meskipun nilai mata pelajaran biologi saya tidak bisa dikatakan bagus, tetapi saya tahu, pepohonan tersebut masih tergolong muda dan tidak menunjukkan gejala akan roboh.

Dibunuhnya pohon-pohon tersebut saya simpulkan berhubungan dengan pembangunan jalan layang yang akan membentang dari Jalan Tendean hingga Ciledug, yang masih berjalan. Dengan adanya pembangunan tersebut, lebar jalan raya otomatis berkurang dan menimbulkan kepadatan kendaraan. Maka trotoar harus dibobol guna solusinya. Sedangkan pepohonan yang tumbuh di sepanjang trotoar tersebut mau-tidak mau, dianggap mengganggu, kemudian dikorbankan. Demi karyawan tidak terlambat menuju tempat kerja, sekian makhluk hidup harus mati. Padahal—jika saya tidak salah—sebuah pohon bisa menjadi habitat bagi sekurangnya ratusan organisme. Baik yang terlihat, atau tidak. Sekian nyawa yang bergantung pada pohon-pohon tersebut, mati begitu saja demi kepentingan manusia. Ironisnya, meski jalanan sudah diperlebar, dan mengorbankan pepohonan, kemacetan tetap saja terjadi. 

Di Jakarta saja, ratusan pepohonan bisa hilang setiap tahunnya akibat pembangunan. Sedangkan pembangunan di Jakarta tidak akan pernah berhenti selama masih ada sepetak saja tanah kosong. Dan semua itu membutuhkan pengorbanan pepohonan, atau bahkan sesama manusia lainnya. Konyolnya, saya mendapati sebuah berita yang mengatakan Dinas Pertamanan DKI Jakarta akan menggelontorkan dana sekira 135 milyar rupiah untuk membeli pohon. Jadi siklusnya begini; pohon yang sudah ada dari sananya dibantai atas nama pembangunan, lalu pemerintah membeli pohon dengan harga yang fantastis, kemudian ditanam kembali. Dan mungkin suatu hari akan kembali dibantai untuk kepentingan pembangunan lagi. Begitu seterusnya sampai Tukang Bubur Naik Haji tamat. Lagipula, saya pribadi tidak yakin, uang sebanyak itu akan benar-benar digunakan untuk membeli pohon. 

Itu hanya contoh kecil dari kerakusan manusia. Contoh lebih besar sedikit, kita semua sudah tahu, di berbagai daerah di Indonesia, terutama Kalimantan, Sumatera, dan Papua, pepohonan dibantai demi dibuat perkebunan atau pembangunan. Saya mendapat data dari National Geographic Indonesia, bahwa setiap menitnya, hutan seluas tiga lapangan sepakbola hilang di Indonesia. Dalam kurun waktu dari tahun 2009-2013 saja, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar. Sama luasnya dengan Provinsi Sumatera Barat, atau tujuh kali luas Provinsi DKI Jakarta. Hebat kan? Itu baru di Indonesia saja. Sampai muncul sebuah anekdot bernada satir; jika saja pohon menghasilkan wifi, tentu semua orang ingin menanamnya. Sayang sekali, pohon hanya menghasilkan oksigen. 

Hal-hal yang saya jabarkan di atas baru bagian prolog, tulisan ini dimulai dari sini, dengan sebuah pertanyaan; virus apa yang paling berbahaya di dunia? HIV? Kanker? Zika? Trojan? Mantan? Semua salah. Jawabnya adalah: manusia. Saya percaya bahwa Bumi adalah sebuah organisme besar yang hidup. Ia bisa merasakan gatal jika manusia melubangi tubuhnya terlalu dalam. Ia bisa merasa minder dengan planet lainnya, karena kini wajahnya penuh bopeng, dan rambutnya botak. Ia juga tahu apa yang dilakukan manusia terhadap dirinya. Bumi masih sehat saja sampai otak para manusia semakin berkembang dan pintar. Bumi dan isinya kemudian dieksploitasi, diperkosa, oleh manusia, tanpa bisa dirinya bisa melawan. Manusia adalah virus yang menggerogoti Bumi bagai kanker. Dosa manusia bukan hanya kepada pohon, namun kepada semua makhluk bernyawa di atas Bumi ini.

Pernah mendengar monyet ditangkapi lalu dimakan? Iya, ada beberapa orang di luar sana yang hobi mengonsumsi daging hingga otak monyet. Beberapa dari mereka percaya khasiat dahsyat yang diberikan oleh daging monyet. Khasiat yang paling diyakini adalah untuk kesehatan kulit dan vitalitas. Lihat, demi mendapat kulit yang baik dan kemampuan untuk bertarung lebih lama di ranjang, monyet harus masuk ruang jagal. Mengonsumsi hewan demi vitalitas adalah alasan yang paling menggelikan bagi saya. Tidak hanya monyet, ada juga yang mengonsumsi janin bebek, kuda laut, ikan fugu, cula badak, ambergris (muntahan ikan paus), timun laut, daging kobra, urin babon, hingga lintah; demi keperkasaan. Ya lintah! Hewan kecil tidak berdosa tersebut ikut kena korban. Saya tidak tahu bagaimana manusia mendapat ide kejantanan dari kemampuan alamiah lintah untuk membengkakkan diri. Yang satu untuk bertahan hidup, dan yang lain untuk harga diri.

Belum lagi jika kita berbicara habitat hewan yang dirusak demi kepentingan manusia. Burung walet dan lebah adalah korban paling empuk untuk dijarah harta-bendanya. Setiap kali melihat madu, saya selalu membayangkan betapa sedihnya lebah-lebah tersebut ketika rumahnya harus digusur paksa. Manusia saja bisa bertindak gila demi mempertahankan tempat tinggalnya jika digusur Satpol PP. Lha ini, rumah lebah yang dibangun sekian tahun, dan menjadi tempat berlindung bagi ribuan spesiesnya, dirampas begitu saja oleh manusia demi alasan kesehatan. Padahal, untuk membangun koloni sedemikian besar, lebah harus bertaruh nyawa. Setiap kawin, alat kelamin lebah jantan akan meledak dan kemudian “snap off inside the queen”. Tentu saja lebah jantan tersebut akan mati. Jika tidak percaya, coba saja ledakkan alat kelamin Anda. 

Glorifikasi manusia terhadap makhluk lainnya seolah tidak menemukan pencapaian. Orangutan nyaris punah dibantai manusia karena dianggap hama, ribuan gajah mati demi diambil gadingnya untuk dijadikan perhiasan, harimau harus rela dikuliti demi pajangan, begitu juga para beruang; ular; buaya, belum lagi penyu, ikan hiu, lumba-lumba, terumbu karang, paus, pikachu, dan sebagainya. Itu yang memang sengaja dibunuh dan diburu. Belum lagi kematian yang tidak disengaja, seperti tercemarnya lautan karena limbah manusia. Pulau sampah di laut Pasifik salah satunya. Setiap orang di benua tertentu yang membuang sampah ke laut, sampah tersebut akan berkumpul di tempat yang sama. Tempat tersebut bernama North Pacific Gyre. 

Sampah-sampah plastik tidak bisa terurai, namun bisa hancur hingga sekecil plankton. Ikan-ikan yang tidak mengenyam bangku sekolahan, kesulitan membedakan antara plankton dan partikel plastik tersebut, lalu dijadikan makan malam atau sarapan. Rantai makanan menjadi rusak karenanya. Hewan-hewan yang mengonsumsi ikan pemakan plastik akan terganggu kesehatannya, begitu juga manusia yang mengonsumsi ikan serupa. Manusia yang memproduksi limbah, juga sekaligus memakan sampahnya. HAHA—rasakan! Makanya, saya tidak suka makan ikan.. 

Semakin modern dan pintar manusia, ternyata semakin berbahaya juga virus yang ditimbulkannya. Jika Anda melakukan entheogen, mungkin Anda akan mendengar Bumi sedang sesenggukan galau. Dirinya sudah tidak seindah dahulu ketika otak manusia masih sebesar biji jagung. Manusia yang semula ditempatkan di Bumi agar hidup dengan harmonis dan menjaga makhluk lainnya, kini justru mendominasi. Iming-iming bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, malah menjadikan seluruh tindakannya seolah dibenarkan. Sebenarnya alam sudah memberikan apa yang seharusnya manusia bisa peroleh. Alam sudah menyeleksi apa-apa saja yang boleh diambil tanpa merusak keseimbangan ekosistem yang telah dijaga sejak milyaran tahun lalu, sebelum manusia berdiri di atas Bumi.

Disadari atau tidak, tindakan manusia yang bersifat destruktif tersebut cepat atau lambat akan menjadi bumerang. Simbiosis manusia dengan lingkungannya alih-alih bersifat mutualisme, justru cenderung parasitisme. Manusia tidak sadar jika mereka sedang merusak inangnya, tidak lain adalah Bumi. Jadi, saya simpulkan, virus paling berbahaya bukanlah kanker, HIV, atau zika. Terlebih mantan. Meskipun sama-sama membuat luka, sih


Bandung, 29 Juli 2016