Daiwi Sampad

31.7.16

Paradigma Bengkok tentang Profesi

Hampir setiap anak kecil pasti pernah mendapat pertanyaan mengenai cita-citanya kelak. Begitupula Anda dan saya. Kecuali, jika Anda langsung sebesar itu ketika dilahirkan, atau lahir di tengah hutan belantara dan dibesarkan oleh gorila seperti Tarzan. Hal serupa tentunya akan diwariskan kepada anak-anak Anda. Pertanyaan demikian sebenarnya bersifat basa-basi kepada anak-anak. Di sisi lain, hal tersebut dinilai sangat berguna. Bahkan bisa menjadi doktrin positif yang diinjeksikan kepada otak anak-anak yang masih “segar”, sehingga diharapkan menjadi stimulus yang akan diimplementasikan olehnya ketika tumbuh besar. Apa sih?!

Setiap pertanyaan pasti menimbulkan jawaban. Kecuali yang Anda tanya adalah Haji Bolot. Sejauh pengalaman saya, setiap mendapat pertanyaan tentang cita-citanya, anak-anak akan memberi jawaban yang hampir seragam. Atau, itu-itu saja. Jawabannya yaitu: dokter, polisi, insinyur, astronot, tentara, guru, presiden, atau pilot. Kalaupun ada yang sedikit anti-mainstream, yaitu mereka yang menjawab pemadam kebakaran. Mungkin ada sih yang menjawab di luar yang saya sebutkan barusan. Namun yang umum ya jawaban itu. Pasti Anda juga pernah mengalami. Kalau tidak, iya kan saja!!

Sebenarnya tidak ada yang salah dari jawaban anak-anak tersebut. Mungkin di dunianya, profesi yang mereka anggap hebat adalah sembilan yang saya sebutkan tadi. Tanpa mengurangi rasa hormat, profesi-profesi tersebut tentu mulia. Saya selalu menganggap semua profesi dan pekerjaan sama mulianya, selama dalam jalan halal. Yang saya heran, kenapa anak-anak selalu menjawab profesi yang itu-itu saja? Ada sekian ribu profesi dan pekerjaan di dunia ini, tetapi mengapa mereka selalu memilih yang sembilan itu saja?

Lalu bagaimana nasib profesi lainnya jika kelak penerus generasi hanya menjadi dokter, polisi, insinyur, astronot, tentara, guru, presiden, pilot, dan pemadam kebakaran? Tidak akan ada seniman, wartawan, operator, pegawai pabrik, aktivis, petani, dan sebagainya. Saya tidak bisa (dan tidak ingin) membayangkan suatu hari nanti ketika saya tua, ada sekian juta orang berkeliaran dengan jubah dokter membawa stetoskop berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, atau ada jutaan orang yang memakai baju pemadam kebakaran berkeliaran padahal tidak ada musibah kebakaran, atau di luar orbit Bumi ada ribuan astronot yang melayang tanpa tau apa tujuannya. 'Kan konyol. Atau yang terburuk, akan ada ratusan Capres yang bertarung di setiap pemilihan presiden. Kemarin hanya dua saja sudah pusing bukan main.

Ada yang salah dalam hal ini. Yang salah adalah paradigma orang dewasa mengenai profesi. Terlalu banyak orang yang menganggap kesembilan profesi tersebut merupakan yang paling “wah”. Profesi-profesi tersebut menjadi tolok ukur sebuah kesuksesan. Pencapaian duniawi tertinggi yang harus kemudian diraih oleh anak manusia. 

Bukti nyata pembentukan paradigma yang “bengkok” tersebut juga tercermin dari iklan-iklan produk anak. Misalkan iklan produk susu untuk anak. Iklan-iklan demikian, kebanyakan menampilkan adegan anak-anak yang menjadi pintar karena mengonsumsi produk mereka. Dalam tayangan seperti itu biasanya dimunculkan anak-anak yang menggunakan jubah dokter lengkap stetoskop atau suntikan, baju pemadam kebakaran sambil menenteng slang air, safety helmet yang biasa digunakan para insinyur, atau sekadar mengenakan setelan jas dan dasi—mungkin melambangkan bos atau presiden. Padahal presiden zaman sekarang 'kan biasa juga menggunakan baju kemeja putih polos, atau motif kotak-kotak. 

Secara tidak langsung (mungkin juga langsung), anak diajarkan bahwa orang sukses ya begitu, seperti yang ditampilkan oleh iklan. Orangtua juga menganggap bahwa sukses adalah ya begitu, seperti dalam iklan, atau setidaknya bekerja dalam setelan jas, dasi, menenteng kopor, dan ruangan kerja berpendingin. 

Di luar itu, misalkan profesi yang bisa bekerja menggunakan kaos oblong, celana jeans atau kolor belaka, berpanas-panas di bawah matahari, bersimbah peluh; bukanlah indikator kesuksesan seorang manusia. Saya tidak beranggapan demikian, namun tidak dengan orang lain. Banyak orang yang menganggap profesi di luar kesembilan yang telah saya sebutkan, sebagai profesi "nomor dua". Atau profesi alternatif. Atau kepepet. Atau mentok.

Padahal, jika kita lihat pada praktiknya, tidak semua dokter itu kaya raya. Polisi tidak selamanya selalu menegakkan hukum. Tentara tidak selalu gagah dan menenteng senapan. Tidak semua guru juga pintar dan mulia, karena tidak sedikit ada guru yang menjual-belikan nilai, dan mencari objekan untuk memeras wali muridnya. Juga tidak semua insinyur itu kebanjiran job, buktinya si Doel—yang anak Betawi asli itu—sempat kebingungan mencari kerja. Hal sebaliknya banyak kita temukan pada profesi lainnya. Profesi-profesi yang selalu dinomor-duakan justru tidak sedikit juga yang kemudian menelurkan orang-orang sukses dan berguna bagi manusia lainnya.

Memang, pemikiran anak kecil belum tentu mampu jika harus diberi tahu bahwa ada lho pekerjaan sebagai seniman, ada lho profesi wartawan, ada lho aktivis, ada lho peneliti, dan lainnya. Namun, menurut saya, pemahaman seperti itu harus dicoba ditanamkan sejak usia mereka masih seumur jagung. Tidak ada yang sulit, selama orang dewasa terlebih dulu mengubah paradigmanya sendiri mengenai profesi. Tidak sedikit anak yang kemudian frustasi karena ambisi orangtuanya yang menuntut mereka menjadi pekerja “wah” tadi.

Contoh kecilnya, masih banyak orangtua yang mengharuskan anaknya masuk jurusan IPA, dibanding IPS atau bahasa. Padahal ketiganya sama baik. Mempunyai bidang masing-masing yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Begitu juga dalam hal profesi dan pekerjaan. Semua profesi sama baik. Semua sama derajatnya. Tidak ada profesi anu lebih hebat ketimbang profesi anu. Paradigma lurus mengenai profesi tersebut setidaknya akan saya tanamkan pada anak saya kelak. Ada yang berminat jadi ibunya? 


Bandung, 30 Juli 2016