Daiwi Sampad

31.7.16

Kolaborasi Film dan IQ Jongkok

Mengutip perkataan Joni di film Janji Nicholas Saputra, bahwa film adalah anugerah seni terbesar yang dimiliki oleh umat manusia. Perkataan tersebut banyak benarnya, karena selain seni musik, menurut saya, film adalah karya seni yang dapat memberi dampak besar secara langsung kepada manusia di berbagai zaman. Selain hanya sebagai makanan bagi batin, film juga dapat mengubah perilaku manusia dengan sangat mudah.

Masih ingat James Holmes? Pasti tidak. Dia adalah seorang pemuda asal Colorado yang secara brutal menembaki penonton The Dark Knight Rises di bioskop. Holmes—bukan Sherlock—menganggap dirinya sebagai The Joker dalam film The Dark Knight. Begitu kuatnya pengaruh sebuah film sehingga dapat mengubah perilaku Holmes yang merupakan seorang kandidat doktor ilmu syaraf di University of Colorado, menjadi seorang pembunuh. Atas tindakan The Joker abal-abal ini, 71 orang terluka, dan 12 orang lainnya meninggal dunia. Untungnya Holmes segera tertangkap. Jika tidak, The Joker ini pasti mengincar nyawa saya.

Masih ada lagi Kyle Shaw yang meledakkan bom kembang api di Upper East Side pada 2009 yang meniru “Proyek Mayhem” Brad Pitt dalam film Fight Club. Lalu tindakan pembunuhan oleh Thierry Jaradin pada 2001 yang menggunakan jubah hitam dan topeng “Ghostface” dalam film Scream. Kemudian film The Matrix yang menginspirasi banyak kejahatan, seperti yang dilakukan oleh Lee Boyd Madison yang terinspirasi oleh realitas kabur dan pengendalian pikiran seperti yang dilakukan oleh Neo. Dan masih banyak lagi tindakan-tindakan di luar nalar yang melibatkan film di dalamnya.

Seperti halnya kasus-kasus yang telah saya sebut, di Indonesia pun pengaruh film begitu kuat. Bedanya, jika di luar negeri, kasus peniruan atas film dilakukan oleh perseorangan, di Indonesia justru dilakukan secara masal. Masyarakat Indonesia sepertinya secara sukarela dan tidak disadari telah masuk ke dalam realitas yang dibentuk oleh film. Film Indonesia yang padahal tidak bagus-bagus amat, justru lebih dapat memberikan pengaruh secara luas. Mengubah perilaku masyarakat yang katanya susah, ternyata secara tidak sadar justru berhasil dilakukan oleh para penggiat sineas Tanah Air kita. Yang bahkan, saya kira, para sutradara tersebut tidak menyadari film nya telah mengubah perilaku masyarakat.

Saya masih ingat ketika medio 2006-2007, anak muda Indonesia mendadak menjelma menjadi pecinta rock n roll. Ketika itu saya masih duduk di bangku SMA, dan lebih dari separuh anak lelaki di sekolah saya, dan sekolah-sekolah lainnya mendadak mengecilkan ukuran celana seragam mereka. Para tukang jahit kebanjiran pesanan dari para siswa SMA yang membuat model celana mereka menjadi model “pensil”, kecil di bagian lutut hingga pergelangan kaki. Semua serba ketat seperti celana Power Rangers, hanya saja berwarna abu-abu. Fenomena celana pensil dan ketat ini sempat membuat gerah pihak sekolah, yang akhirnya membuat peraturan larangan terhadap celana model demikian.

Belakangan saya baru menyadari tren itu dimulai ketika film Realita, Cinta, dan Rock N Roll dibuat, tahun 2006. Aktor-aktor yang bertampang manis dengan gaya rock n roll (versi mereka) kontan mempengaruhi banyak remaja pada masa itu. Celana ketat, jaket kulit atau jeans, kacamata hitam model aviator, dengan model rambut yang entah apa namanya, menjangkiti teman-teman saya. Sehingga saya tidak bisa membedakan mereka, karena hanya ada dua lelaki di Indonesia ketika itu; Vino dan Junot.

Belum lagi fenomena anak punk yang mendadak menjangkiti banyak anak muda setelah dirilisnya film Punk in Love tahun 2009. Mendadak anak punk dengan rambut tegang yang dicat warna-warni menjadi hiasan di berbagai kota. Meniru adegan di film tersebut, banyak dari mereka yang menumpang truk untuk bepergian. Mabuk-mabukan. Tidak kenal usia dan gender, anak-anak punk dadakan ini sempat membuat salah seorang anggota grup band Rancid berkomentar; bahwa punk tidak seperti itu. Tidak seperti yang terjadi di Indonesia. Lucu.

Tidak hanya film buatan dalam negeri yang banyak mempengaruhi perilaku masyarakat Indonesia. Film luar negeri pun ada beberapa yang turut menyumbangkan sebuah gerakan di Indonesia. Film Green Street (Hooligan) contohnya. Sebelum tahun 2005, mana ada pendukung klub sepakbola West Ham di Indonesia. Kalaupun ada, itu hanya segelintir orang yang bahkan batang hidungnya tidak pernah terlihat. Namun setelah film yang dibintangi oleh Elijah Wood tersebut menembus negeri garuda ini, pendukung West Ham mendadak muncul. Lengkap dengan aksesoris ala-ala penganut Skinhead di Inggris sana. Juga tidak lupa memarkir motor di tempat yang jauh, kemudian berjalan kaki menuju tempat nonton bareng sambil menyanyikan lagu kebesaran West Ham; I’m Forever Blowing Bubbles. Jika timnya kalah, membuat kerusuhan adalah kewajiban. Sama persis, dengan apa yang digambarkan oleh para hooligan di film tersebut. Menyedihkan memang.

Lain kasus dengan pematik yang sama. Kali ini terjadi belakangan. Belum lama. Jumlah pendaki gunung di Indonesia mendadak membengkak. Orang-orang yang semula acuh terhadap gunung, mendadak menjadi pendaki profesional. Di media sosial pun banyak saya temukan foto-foto para pendaki profesional tersebut, dengan latar gunung, pohon, atau membawa secarik kertas yang ditulisi berbagai ucapan. Wajah-wajah muda dengan kostum mahal bak pendaki veteran mendadak menjamur. Beberapa teman saya pun ada yang terjangkit wabah pendaki gunung tersebut. Mereka yang semula, bahkan menyebut “gunung” pun tidak, mendadak sudah berada di sekian meter di atas permukaan laut. Dengan wajah sumringah tentunya, berhasil menaklukan puncak gunung. Ah ya, jangan lupa dengan keterangan foto yang begitu mengharukan, penuh kegalauan, atau keceriaan, dan imbauan agar menjaga alam. Pret.

Jumlah kecelakaan di gunung belakangan meningkat. Ada yang terjatuh dari kawah karena ingin selfie lah, ada yang tertimpa batu sebesar tenda lah, ada yang tersesat lalu mati lah, ada yang.. masih banyak lagi. Pada tahun 2013-2015 saja, tercatat ada lebih dari 40 orang pendaki yang meninggal dunia. Belum lagi yang hilang, dan yang tidak tersorot oleh media massa. Penyebabnya beragam, mulai dari tersesat, terjatuh ke jurang, menghirup gas beracun, kehabisan logistik, hingga mati lemas. Mari kita mengheningkan cipta barang sebentar untuk menghormati mereka yang mati demi selfie dan menulis kertas sekian MDPL; kapan kamu melamar aku, mz?

Baiklah, mati itu urusan masing-masing, yang lebih gawat adalah merusak lingkungan. Kok bisa yang katanya pecinta alam, justru bisa merusak lingkungan? Ya bisa toh pada buang sampah di gunung. Data yang saya dapatkan dari Komunitas Sapu Gunung, hingga bulan April 2016, terdapat 453 ton sampah di delapan taman nasional, dan tiga gunung. Sampah tersebut berasal dari sekira 150.688 pendaki per gunung dalam setiap tahunnya. Jika dirata-rata, seorang pendaki membuang tiga kilogram sampah. Sampah yang terbanyak ditemukan di Gunung Rinjani, yaitu sekira 160 ton sampah. 160 ton! Jika berat rata-rata gajah mencapai 5 ton, maka dengan sampah-sampah di Rinjani, Anda bisa mendapat 32 ekor gajah untuk di pelihara. Berminat?

Lalu apa hubungannya dengan film? Ada. Tenang saja. Saya lanjutkan dulu. Setelah saya telusuri berbagai sumber ditambah menjelajahi sudut-sudut otak saya yang usang ini, saya menemukan satu simpulan, bahwa fenomena mendaki gunung dimulai sekitar tahun 2012. Nah lho, ada apa di 2012? Bukan. Bukan soal ramalan kiamat oleh Suku Maya. Tahun tersebut adalah tahun rilisnya film 5 CM yang dibintangi oleh Junot, Fedi Nuril, Pevita, lalu siapa lagi. Lagi-lagi Junot. Bagi sesiapa yang belum mengetahui film apakah 5 CM itu, saya beritahu, film tersebut bercerita tentang sekumpulan anak muda yang bersahabat lalu mendaki gunung Semeru untuk merayakan upacara kemerdekaan di atas puncak Mahameru. Lalu apa kaitannya film 5 CM dengan fenomena mendaki dadakan? Lah! Sampeyan ini guob..

Begitu mudahnya film mengendalikan aksi bagi masyarakat Indonesia. Sebuah film yang menurut saya jelek itu ternyata dianggap bagus oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Lalu simpulannya, saya harus mencari cara untuk memperbaiki selera film saya. Berbekal ingin meniru adegan indah dan dramatis seperti di dalam film 5 CM, banyak masyarakat yang kemudian nekat mendaki gunung berbekal pengetahuan yang cetek. Akibatnya, mati, atau yang terburuk merusak lingkungan. Tapi Mas, aku sudah menjadi pendaki gunung dan pecinta alam sebelum film itu ada! Terserah, saya tidak peduli.

Masih ada lagi, film Filosofi Kopi yang dirilis tahun 2015 berhasil mencetak banyak pencinta kopi di negeri ini. Sebenarnya saya tahu betul, pecinta kopi sudah banyak sebelum film ini muncul. Namun, setelah film ini muncul jumlah manusia yang mengaku pecinta kopi mendadak bertambah menjadi 23 kali lipat. Mendadak juga muncul para barista yang pengetahuan terhadap kopinya pun dadakan. Yang sebelum minum kopi kudu digoyang-goyang dulu gelasnya lalu dihirup aromanya. Padahal sebelumnya, siapa yang mau disebut tukang kopi? Sekarang, pada antre kepingin disebut barista yang rasa kopi buatannya hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Seperti yang telah saya sebutkan, dampak film di luar maupun di dalam negeri sama saja, dapat mengubah perilaku manusia. Hanya bedanya jika di luar negeri hanya berpengaruh pada beberapa individu, sedangkan di Indonesia, dapat berpengaruh kepada banyak orang sekaligus. Barangkali, di negara-negara maju, para penonton memiliki “filter” yang lebih kuat ketimbang penonton di dalam negeri. Apa penyebab utamanya saya tidak tahu, yang pasti didukung oleh faktor gizi yang kurang sehingga membuat IQ manusia di sini pada jongkok dan tidak berdiri lagi. Untung. Untung saja, film Brokeback Mountain tidak banyak dikenal oleh banyak masyarakat Indonesia. Kalau tidak.. Saya ngeri membayangkannya.


Jakarta, 25 Mei 2016