Daiwi Sampad

31.7.16

Jangan Baca Buku!

Kalau pernah mendengar mitos atau pamali, seperti jangan duduk di ambang pintu jika tidak mau sulit jodoh, atau harus bersih saat menyapu lantai agar tidak mendapat suami berewok, seperti itulah buku. Buku sebagai jendela dunia, buku sebagai guru yang baik, buku sebagai pelita ilmu, tak ayal hanya sebuah mitos. Mitos buku telah ditanamkan pada benak manusia sejak bocah. Kita terlalu lama menerima doktrin akan buku yang begini, yang begitu. Buku yang katanya dapat mencerdaskan manusia adalah angan-angan yang terlalu muluk.

Berdasarkan hasil survei UNESCO pada tahun 2012 menunjukkan indeks tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01%. Bisa diartikan, hanya ada satu dari 1000 orang yang masih mau membaca buku. Saya tegaskan, satu dari 1000. Berarti jika kamu suka membaca buku, maka ada satu batalion orang yang waras. 999 orang sisanya selain kamu sudah menyadari bahwa membaca buku seperti menyiram tanaman saat hujan. Buat apa? Percuma. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 orang saja yang masih minat membaca. Sedangkan pengguna internet di negeri ini telah mencapai angka 88,1 juta jiwa pada 2014. Lihat, dengan pengguna internet sedemikian banyak, saya yakin dalam 1-2 tahun lagi generasi muda Indonesia akan membawa negeri ini kembali menjadi Macan Asia. Rawr.

Saya punya buktinya kalau membaca buku adalah kesia-siaan. Dengan minat baca yang demikian rendah, Indonesia sekarang bisa menjadi salah satu negara berkembang yang cukup pesat. Buktinya, semakin banyak orang-orang pintar yang duduk di dalam ruang paripurna, angka kelulusan siswa sekolah mendekati 100%, para balita semakin pandai mengoperasikan teknologi digital, semakin banyak manusia dengan deretan gelar di belakang namanya, dan masih banyak lagi. Ingat, itu semua diraih dengan 0,01% minat baca. Artinya, buku tidak hebat-hebat amat seperti yang digemborkan.

Lagipula, buku bukanlah hal yang praktis. Juga mahal. Anggaplah rata-rata sebuah buku dihargai Rp50.000. Dengan nominal sekian, lebih baik membeli pulsa untuk kuota internet ponsel pintar. Bahkan masih ada uang kembali barang seribu-dua ribu. Juga tidak perlu jauh-jauh mengunjungi toko buku, warung sebelah pun menjual pulsa. Dari harga dan efisiensi waktu saja, sudah terlihat jelas betapa lemahnya buku. Ilmu di internet jauh lebih banyak, lebih mudah didapat. Tidak perlu memegang buku berlembar-lembar dengan berat sekian kilo, cukup modal jempol, ribuan ilmu sudah dapat diakses. Belum lagi dengan kemampuan copy-paste jika sedang membuat tugas atau dalam pekerjaan. Praktis, tis, tis.

Jika smartphone diibaratkan bagai langit, maka buku adalah kerak bumi. Jaraknya demikian jauh. Buku adalah benda yang sangat membosankan, terlebih jika kita berkunjung ke toko buku atau perpustakaan, sangat menyeramkan, karena keadaan di dalamnya yang sangat sepi. Isi dari buku hanyalah deretan huruf, huruf, dan huruf. Apa menariknya? Belum lagi kebanyakan buku hanya terdiri dari warna hitam dan putih. Sangat jauh dibandingkan dengan smartphone yang lebih atraktif dan menghibur. Apalagi jika sedang jenuh, proses mencari ilmu bisa disela oleh update status atau pamer prestasi. Sebenarnya bukan pamer sih, tapi lebih ke-membagi kebahagiaan kepada teman-teman di sosial media. Buku? Mana bisa seperti itu.

Di negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Belanda, siswa SMA diwajibkan untuk menamatkan sekitar 20 judul buku sebelum mereka diluluskan oleh sekolah. Sedangkan di Indonesia, semenjak Pak Harto belum disunat hingga kini, tidak ada kewajiban dari sekolah atau pemerintah kepada siswanya untuk menamatkan bacaan. Saya jadi kasihan kepada anak-anak di Eropa sana. Betapa membosankannya hidup mereka harus dihabiskan dengan membaca. Negara-negara dengan sistem pendidikan yang konservatif. Berbeda dengan para anak muda di Indonesia yang sudah diberikan kemerdekaan sejak dini. Terbebas dari belenggu buku yang membosankan. Dengar, bung, kehidupan muda itu tidak akan terulang dua kali, jangan sampai semua masa muda kalian dihisap oleh buku.

Bikin cepat tua! Lihat bagaimana bahagiannya anak-anak muda di Indonesia ketika merayakan kelulusan. Bahagia menaiki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dengan bekal ilmu yang lebih dari cukup. Maka bagi saya, wajarlah mereka yang baru saja lulus sekolah lantas merayakan dengan corat-coret seragam. Toh itu ekspresi kebahagiaan. Tidak seperti anak-anak di Eropa sana yang kehidupannya menyedihkan karena ranselnya selalu berat dengan buku-bukuan. Yang penting lulus. Kuliah, yeah, keren!

Kurangnya minat baca bukan lantaran kami ini miskin lantas tidak bisa membeli buku. Perlu ditekankan. Kami mampu-mampu saja jika harus membeli buku, tapi toh buat apa? Baik, saya buktikan bahwa penduduk Indonesia rata-rata mampu untuk membeli buku. Dalam satu bulan untuk memperoleh informasi, anggap saja rata-rata orang Indonesia menghabiskan Rp100.000 untuk anggaran pulsa smartphone, lalu Rp300.000 untuk membayar siaran tv kabel, lantas Rp500.000 untuk membayar tagihan internet. Lihat? Kata siapa orang Indonesia miskin sehingga tidak mampu membeli buku? Bahkan coba saja kamu ke kolong jembatan layang, atau menengok ke dalam rumah-rumah kardus di bantaran rel kereta, mereka semua mengenggam ponsel. Bahkan ponselnya pintar. Saya tekankan, bukannya orang Indonesia tidak mampu membeli buku. Hanya saja buat apa?

Buku itu kuno, mitos, sekali lagi. Jika ada survey atau lembaga yang menyuarakan wajib membaca buku, saya bisa tekankan, itu adalah upaya pelemahan bagi penduduk Indonesia. Negara-negara Barat yang sedang mengalami krisis tentu iri melihat kecanggihan penduduk Indonesia, yang bahkan bayi bisa mengoperasikan telepon pintar. Maka, mereka menggaungkan wajib membaca agar pola pikir penduduk Indonesia kembali mundur. Logikanya, buat apa diciptakan teknologi yang sedemikian canggih sehingga bisa memudahkan manusia untuk mendapat informasi, jika masih harus membaca lembaran-lembaran kertas? Kuno. Oh ya! Juga buku yang notabene menggunakan kertas adalah bentuk dari penghamburan sumber daya alam. Kurang ajar memang! Mau botak apa itu hutan jika terus-menerus membaca buku?

Sebenarnya pemerintah Indonesia sudah menyadari akan kesia-siaan fungsi buku sejak tahun belakangan silam. Pemerintah telah menyadari bahwa buku adalah bom waktu yang dapat meledak kapan saja dan membawa Indonesia ke dalam masa kegelapan. Lihat bagaimana pemerintah sempat membakar buku-buku para sastrawan, menyita, atau dilarang terbit. Lihat juga bagaimana cara pemerintah Indonesia melarang dan membubarkan diskusi-diskusi tentang buku. Belakangan, perpustakaan nasional mendukung pemerintah untuk memusnahkan beberapa buku. Baguslah, pemerintah kita semakin cerdas menghadapi bahaya laten yang ditimbulkan oleh buku. Setelah tidak mewajibkan para siswa membaca buku, kini buku-buku mulai dibakar. Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi Indonesia memasuki masa keemasan seperti yang dijanjikan oleh kitab Jayabaya.

Terbaru, World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016 menyebutkan bahwa peringkat literasi Indonesia berada pada posisi 60, dari 61 negara yang diteliti. Indonesia satu tingkat di atas Bostwana. Hahahaha negara apa pula itu Bostwana? Namanya aneh.


Jakarta, 17 Mei 2016