Daiwi Sampad

31.7.16

Jakarta Butuh Batman

Jakarta adalah kota yang paling sering dibicarakan. Kota yang katanya tidak ramah, namun romantis. Seorang teman pernah berkata, sore hari di Jakarta lebih indah dibandingkan sore hari di Bandung atau Jogja. Jika kita ke sampingkan kemacetan dan hiruk-pikuk orang-orang sepulang kerja, perkataan teman saya tersebut benar adanya, sore hari di Jakarta memang indah. Jakarta memiliki daya magis tersendiri. Ia begitu banyak dicaci-maki, namun tetap dicari. Pernah ketika saya masih kuliah, ada seorang teman yang habis diledeki karena dirinya belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Belum lagi anggapan sebagian orang yang belum merasa menjadi “orang kota” jika belum pernah ke Jakarta, sekadar berfoto di hadapan Monas, atau pelesir ke Ancol. Oleh karena itu, orang-orang pada berebut ingin melihat Ibu Kota secara langsung, bukan layar kaca. Kemudian, sebagian dari orang-orang itu merasa betah, dan tinggal di Jakarta.

Saya sendiri baru sekira satu tahun ini menjadi “penduduk” Jakarta. Jujur, jika bukan karena terpaksa harus memanen rupiah, saya tidak ingin tinggal di Jakarta. Saya terlalu manja untuk dihadapkan pada panasnya udara, debu, ramainya orang, dan segala sesuatu tentang Jakarta. Juga termasuk budayanya, yang menurut saya unik. Bagaimana tidak, sejak kecil, saya melihat tukang nasi goreng mendorong gerobaknya, tapi di Jakarta gerobak tersebut justru ditarik. Belum lagi di sekitar tempat tinggal saya, berseliweran tukang sate yang menggunakan klakson motor untuk menarik pembeli. Lalu ada penjual masakan Padang yang menggunakan gerobak, bukan membuat rumah makan. Bagi saya, itu semua ganjil. Itu hanya sebagian kecil saja.

Sudah bukan rahasia umum, jika di Jakarta adalah biangnya kriminal. Ada banyak faktor yang menjadikan tingkat kriminalitas di Jakarta sangat tinggi. Kemiskinan, juga heterogenitas penduduk Jakarta menjadi pemicu utamanya. Di Jakarta serba-mahal, untuk memenuhi kebutuhannya, masyarakat yang berpenghasilan di bawah rata-rata, perlu memutar otak untuk mengisi perut. Tidak sedikit yang pada akhirnya mengambil jalan pintas. Yaitu, menjadi kriminil. Namun, ekonomi tidak bisa dijadikan kambing hitam tunggal. Amburadulnya penegakkan hukum di Jakarta juga patut disalahkan. Menurut Economist Intellegence Unit, dari 50 kota di dunia yang diteliti, Jakarta merupakan kota paling tidak aman sejagat. Sejagat! Alamak..

Kejahatan seperti copet, rampok, begal, pembunuhan, pemerkosaan, dan sebagainya yang menjadikan Jakarta menyandang gelar tersebut tidak bisa ditampik. Hampir setiap hari selama 24 jam, Jakarta tidak pernah luput dari sorotan berita akan kriminalitas yang terjadi. Berdasarkan hal tersebut, Gubernur Jakarta pernah berniat menyimpan CCTV di berbagai sudut kota, pluspara penembak jitu yang diposkan di beberapa sudut kota. Sebegitu seriusnya, kanJakarta. Upaya seperti itu menurut saya tidak salah. Namun rupanya Gubernur lupa bahwa kriminalitas terjadi tidak hanya di jalanan Jakarta saja, namun di dalam gedung-gedung yang dilakukan oleh para korup, dan preman berdasi lainnya. Maka, bisa saya katakan, Jakarta zero crime, adalah utopia. Mustahil.

Dengan pemerintahan yang jujur dan bersih sekalipun, tidak akan bisa membuat Jakarta menjadi kota yang aman dan terbebas dari kriminal. Gurita kejahatan di Jakarta sudah menempatkan tangan-tangannya di berbagai tempat. Jaringan mafia, para pejabat korup, pebisnis nakal, god father, tidak akan bisa diberantas oleh pemerintahan. Pemerintah saja tidak cukup. Selalu ada batasnya. Pemerintah, saya ibaratkan seperti burung di dalam sangkar raksasa. Meskipun luas, dan bisa bergerak bebas di dalamnya, namun tetap saja pada dasarnya mereka berada di dalam sangkar. Yang dibutuhkan oleh Jakarta adalah Batman.

Gotham, kota tempat beroperasi Batman tidak kalah buruk dari Jakarta. Berbeda dengan pemerintahan di Jakarta yang memiliki batasan, Batman bergerak tanpa itu. Tanpa batasan yang mengikat. Tanpa prosedur hukum. Bagi Batman, siapapun yang salah, harus dihukum. Penjahat kroco, hingga mafia tingkat dewa, di mata Batman, mereka hanyalah penjahat. Tidak ada kecuali. Batman yang telah terbiasa dengan Gotham, yang merupakan sarangnya kejahatan, tentu tidak akan kerepotan kalau hanya sekadar mengurus Jakarta.

Bayangkan, mafia sekelas Don Falcone dan Maroni saja bisa dengan mudah dilibas oleh Batman, apalagi mafia sekelas pemegang Tanah Abang. Itu mah kelas teri. Membersihkan pemerintahan yang korup? Ah, gampang saja. Lihat, buktinya sekarang Oswald “Penguin” Cobblepot kini meringkuk di Arkham. Dibandingkan Penguin, maka menangani orang-orang semacam Gayus, Andi Mallarangeng, atau Suryadharma Ali dapat dilakukan Batman dalam keadaan flu sekalipun.

Lalu bagaimana jika Batman harus dihadapkan pada dinasti seperti Cendana, atau Cikeas, atau dinasti Ratu Atut, atau dinasti mafia lainnya? Kalian tahu dinasti The League of Shadow yang dipimpin oleh Ra’s al Ghul? Jika kalian berkunjung ke sana sekarang, maka dinasti The League of Shadow hanya akan ditemukan puing-puingnya saja. Mereka telah dihancurkan. Oleh Batman, pastinya!

Dengan adanya Batman di Jakarta, saya yakin angka kriminalitas akan turun drastis. Gubernur tidak perlu lagi repot-repot memasang CCTV atau merekrut para penembak jitu. Anggaran KPK juga bisa dipangkas, juga para polisi yang tidak becus, rumahkan saja. Polisi bagian kriminal bisa bersantai sejenak dari mengurusi perampok dan pembunuh. 

Memangnya bisa Batman menumpas perampok dan pembunuh? 

Hey! Kalian lupa The Joker?!


Bandung, 7 Juni 2016