Daiwi Sampad

31.7.16

Fenomena Ayah-Bunda

Sebelumnya, saya tidak percaya bahwa zaman sudah edan, kata orang-orang. Alasannya, karena saya belum pernah merasakan hidup di zaman yang tidak edan, dan tidak pernah tahu rasanya seperti apa. Tetapi, siang tadi, di angkutan umum—di kota saya disebut Angkot, entah di kota kalian—saya dipaksa harus mengakui bahwa zaman memang benar sudah edan. Hal yang membuat saya mengakui bahwa zaman sudah edan bukan karena ada bapak-bapak yang memenuhi ruangan Angkot dengan asap rokoknya. Bukan juga karena ada mas-mas jahil yang diam-diam mencolek paha mbak pegawai di samping saya. Bukan juga karena ada ibu yang panik karena dompetnya kecopetan di dalam Angkot. Itu semua sih sudah biasa. Tidak bisa dikatakan edan. Penyebabnya adalah, dua orang anak SD.

Sebetulnya, tidak ada yang aneh ketika dua siswa-siswi SD tersebut menaiki Angkot. Mereka terlihat normal, seperti anak SD pada umumnya. Berseragam kemeja putih, celana pendek merah, rok merah, dasi merah dengan logo Tut Wuri Handayani, sepatu hitam, kaus kaki putih, ransel, normal. Benar-benar normal. Siapapun tidak akan ada yang menyangka jika mereka adalah agen CIA. Tidak, tentu saya hanya bercanda. Kedua anak SD yang terlihat biasa saja ini kemduian duduk tepat di hadapan, lalu mereka terlihat asyik bermain game di ponsel. Semua masih normal sampai ketika si lelaki memanggil kawannya dengan sebutan “Bun”. Sebenarnya ketika itu, saya masih menganggap normal sih, mungkin saja nama si perempuan adalah Buntal, karena memang lumayan bertubuh montok. Keanehan masih berlanjut ketika kali ini giliran si perempuan memanggil kawannya dengan sebutan “Yah”. Hmm, jika dilihat dari postur tubuh si lelaki yang kurus kerempeng dan terlihat lemas, saya mengira ia bernama Payah.
“Bukan gitu ihh, bunda..”

“Gimana atuh, ayah..?”
Mendengar percakapan mereka saya merasa menjadi Barry Allen yang tetiba tersambar petir. Hanya sayangnya tidak menjelma menjadi The Flash. Bagaimana bisa, anak sekecil mereka sudah menikah? Saya kemudian tersadar karena hal tersebut mengusik harga diri, karena sampai setua ini belum pernah ada yang memanggil saya “ayah”. Baiklah, saya sebenarnya tahu, kedua anak SD tersebut belum menikah. Karena si lelaki pasti belum mapan. Mereka hanya berpacaran. Lalu menyepakati untuk menggunakan ayah-bunda sebagai panggilan sayang.

Sebenarnya fenomena panggilan sayang di kalangan berpacaran sudah sangat biasa. Panggilan seperti abi-umi, papa-mama, papi-mami, akang-eneng, abang-none, mojang-jajaka, Asterix-Obelix dan sebagainya sudah sangat lumrah. Tetapi, sepanjang pengetahuan saya, hal tersebut hanya terjadi di kalangan remaja, bukan anak-anak. Sebenarnya tidak masalah sih mereka mau menggunakan panggilan apapun, toh tidak akan bikin hamil. Suka-suka kita dong! Sirik aja, deh!

Terhadap kasus seperti ini, yang terlihat sepele, justru harus disoroti lebih dalam. Belakangan, kasus pelecehan seksual sedang banyak diangkat ke permukaan. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan yang dilangsir oleh laman BBC Indonesia, pada tahun 2015 terdapat 321.752 kasus pelecehan terhadap perempuan. Artinya, ada sekira 881 kasus terjadi setiap hari. Lalu, kasus lainnya, angka kehamilan di luar nikah mencapai angka yang fantastis. Dari data yang saya dapatkan, selama 2013, anak-anak usia 10-11 yang hamil di luar nikah mencapai angka 600.000 kasus. Sedangkan angka kehamilan di luar nikah pada remaja berusia 15-19 tahun menyentuh angka 2,2 juta kasus. Jumlah tersebut belum termasuk remaja atau anak yang tidak terdata. Maka tidak heran jika Indonesia menempati urutan kedua di ASEAN sebagai negara dengan pernikahan dini terbanyak. Hayo! Tadi siapa yang bilang sirik, hah?!

Menurut saya, panggilan ayah-bunda oleh anak SD sangat berkorelasi dengan angka-angka yang telah disebutkan sebelumnya tersebut. Pengenalan terhadap “cinta” di usia yang demikian dini bukan tidak akan berdampak pada kehidupan sosial si anak. Anak-anak menjadi matang sebelum waktunya. Ketika saya seusia SD dahulu, jangankan untuk berpacaran, mengelap ingus pun masih menggunakan lengan baju. Bukan saya merasa sok suci, ketika bocah pun saya memang sudah mengenal “suka” terhadap lawan jenis. Tetapi suka hanya sekadar suka, tidak berani lebih. Semua karena andil ceramah orang tua yang selalu mengingatkan bahwa anak kecil tidak boleh pacaran. Atau ditakuti oleh mitos, jika menyentuh lawan jenis, maka ia akan hamil. Jangankan mendengar lagu "Kesempurnaan Cinta" dari Rizky anak Sule, bisa hafal lirik lagu "Si Lumba Lumba" Bondan Prakoso pun, saya sudah merasa paling keren.

Terlalu naïf jika mengaitkan fenomena ini dengan hanya dengan banyaknya tayangan sinetron yang tidak mendidik, atau lemahnya kontrol media dalam memberikan informasi. Memang, peran media sangat berpengaruh besar terhadap perubahan perilaku masyarakat. Memang, media belakangan hanya memikirkan rating, share, dan profit belaka, persetan dengan mendidik. Memang, sekarang informasi di internet tidak bisa dibendung lagi. Tidak ada batasan yang jelas dalam dunia maya. Dengan mengetik kata “bugil” di Google saja, voila, dunia buah-buahan langsung tersaji di hadapan Anda. Tetapi itu semua bukanlah pelaku utama dalam fenomena ini.

Pelaku utamanya adalah para orang tua. Para orang dewasa. Saya pernah diajarkan, setiap media musti memiliki ”filter” guna menyaring informasi yang akan disebarkan, namun “filter” terakhir dan (yang seharusnya) paling kuat adalah pemirsa itu sendiri. Anak-anak, mereka jelas belum memiliki daya filtrasi untuk memilah informasi mana yang patut dan tidak untuk mereka peroleh. Filter untuk anak-anak adalah pada orang tuanya, atau para orang dewasa di lingkungannya. Seburuk apapun tayangan televisi, atau sebahaya apapun informasi di internet, orang tua mampu mencegah anaknya untuk tidak mendapatkan informasi tersebut. Bukan hanya sekadar menyalahkan media, internet, ataupun pergaulan belaka tanpa melakukan pengawasan ketat terhadap anaknya. Lalu bagaimana jika mereka mendapat pengaruh buruk justru dari luar rumah? Lah, maka dari itu dibuat anjuran untuk membesarkan anak di lingkungan yang baik. Maka dari itu juga, para orang tua berani membayar uang mahal demi membayar sekolah anak, agar anaknya mendapat pendidikan dan lingkungan yang baik. Jangan menyekolahkan anak demi gengsi di depan para tetangga saja. Anak saya hebat lho, jeng..

Bagaimana tidak, jangankan melarang anaknya mendapat informasi yang sembarangan, sekarang para balita sudah dikenalkan kepada gadget dan internet. Jika menggunakan pengawasan yang layak, bagus. Jika lengah melakukan pengawasan, hangus. Zaman sudah semakin maju, informasi sudah seperti laron yang mengerubungi lampu, banyak, tidak terbendung, berseliweran. Karena itu, kembali lagi kepada anak SD yang duduk di hadapan saya ini, mereka sebenarnya adalah korban. Korban dari pengaruh buruk media, dan lengahnya pengawasan orang tua. Panggilan ayah-bunda saya analogikan sebagai batang korek api, meskipun kecil, namun bisa menyalakan bom yang kemudian meledak (padahal bom sekarang berbentuk digital). Jika dibiarkan, fenomena seperti pelecehan seksual, kehamilan di luar nikah, dan pernikahan dini akan semakin bertambah angkanya. Dan pada akhirnya dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang “ter” dalam hal-hal tersebut.

Hikmahnya adalah, dalam angkot siang tadi, saya menjadi percaya bahwa zaman memang sudah edan. Melihat kedua bocah tersebut ber-ayah-bunda-an saya hanya bisa mengelus dada. Dada sendiri tentunya, bukan milik mbak di samping saya.


Bandung, 30 Mei 2016