Daiwi Sampad

20.7.16

Dunia Tidak Segawat di Televisi

Sebagai pekerja sekaligus konsumen televisi, saya mulai menyadari beberapa hal dari kotak ajaib tersebut. Meski bekerja untuk sebuah televisi, saya bukan seorang penikmatnya. Televisi yang nongkrong di kamar saya, kebanyakan hanya digunakan untuk bermain PlayStation atau nonton DVD saja. Sangat jarang digunakan untuk menonton acara televisi. Setelah sekian lama tidak melongok isi televisi, barulah kemarin malam, secara tidak sengaja saya menonton televisi sehabis bermain PlayStation dan malas mengambil remote control untuk mematikannya. Jadi, saya pikir, tidak apalah sesekali menonton acara televisi. Ketika itu layar tengah menampilkan acara berita dari salah satu stasiun televisi swasta.

Meski tidak serius menonton acara berita tersebut, telinga saya dapat mendengar apa yang keluar dari perangkat suara televisi. Jadi, sesekali mata saya teralihkan dari layar laptop ke layar televisi. Alih-alih informasi yang saya dapatkan ketika itu, justru kengerian yang saya rasakan. Bagaimana tidak, bisa saya katakan 90 persen berita yang ditampilkan adalah berita buruk. Bad news. Sedangkan 10 persen sisanya adalah berita hiburan yang sangat tidak menghibur, karena otak saya telah dicekoki perasaan ngeri sebelumnya.

Lupakan masalah carut-marut politik di negeri ini yang merupakan menu utama dalam sebuah porsi pemberitaan. Pada acara berita yang saya saksikan tadi malam, selain politik, semuanya sarat dengan berita kematian, dan kekerasan. Ada berita seorang remaja yang membunuh neneknya sendiri demi sebuah ponsel baru. Ada juga yang menayangkan berita tentang penemuan potongan tubuh manusia di sebuah sungai. Tidak ketinggalan berita pencabulan anak kecil oleh orang dewasa. Belum habis, sudah ditimpa lagi oleh berita narapidana yang sempat melarikan diri dari penjara. Berita tentang anak yang obesitas. Oo masih ada lagi berita seorang istri yang melaporkan suaminya, karena ternyata suaminya tersebut merupakan seorang perempuan juga. Gila? Jelas!

Belum usai rasa takjub dan prihatin terhadap nasib sial sang istri, yang baru sadar setelah setahun pernikahan mereka, saya tersentak akan sesuatu. Saya menyadari bahwa dunia ini sudah tidak aman lagi. Pembunuh bisa saja bersembunyi di bayang-bayang sebuah gang, penjahat kelamin bisa saja berkeliaran dan membaur di antara kita, perampok bisa saja mengintai dan menikam kita tanpa permisi, pencuri bisa saja mengincar rumah kita, ditambah penjahat-pejahat yang kabur dari penjara, narapidana mengamuk. Dan tentunya bisa saja pasangan kita ternyata seorang transgender.

Betapa mengerikannya dunia ini. Lebih mengerikan lagi ketika saya teringat akan stasiun televisi tempat saya bekerja. Saban hari biasa saya temukan berita tentang bom meledak di suatu negara, pembunuhan oleh teroris, konflik umat beragama, bom, teroris, konflik, bom, teroris, konflik begitu terus sampai habis jam kerja saya. Besoknya bom, teroris, dan konflik kembali menyambut, menghantui. Masih meratapi kesengsaraan, saya sudah dihantam kembali oleh berita politik. Lebih buruknya, politik Amerika musti dibawa-bawa. Memikirkan bagaimana si istri bisa tertipu setelah pernikahan setahun saja, saya sudah mumet, apalagi harus dipaksa menyaksikan drama politik Donald Trump atau Hillary Clinton.

Pertanyaannya, apakah dunia sudah segawat itu? Apakah benar dunia sudah tidak aman lagi? Jika iya, saya harus pindah ke mana untuk merasa aman? Planet Namek?

Kemudian otak saya yang sudah lama tidak digunakan tetiba menemukan sesuatu di sudut paling dalam. Sudut yang selama ini tidak pernah saya sentuh lagi tersebut amat gelap dan sudah dipenuhi oleh pintalan jaring laba-laba. Pada sudut tersebut saya menemukan sebuah kata, yaitu: framing. Sejak ketika masih menjadi mahasiswa bertahun silam, kata tersebut telah bercokol tanpa pernah disentuh kembali. Jika tidak salah, framing merupakan teknik pembingkaian sebuah peristiwa yang umum digunakan dalam membuat berita. Dengan kata lain, framing merupakan perspektif atau sudut pandang yang digunakan oleh jurnalis atau media massa dalam membuat berita atau menyeleksi isu. Framing merupakan teori lanjutan dari agenda setting. Seorang jurnalis bisa melahirkan wacana yang akan ditangkap oleh khalayak. Dalam hal ini, jurnalis bisa memilah realitas yang akan ditampilkan dalam sebuah pemberitaan.

Framing bila boleh saya contohkan ketika suatu waktu, Anda menemui lima ekor kucing yang lucu tapi buduk di bagian pantatnya. Lalu Anda diusuruh membuat cerita tentang kelima kucing tersebut. Melaporkan seperti apa, dan bagaimana bentuknya. Dalam framing, Anda boleh mengambil bagian mukanya yang lucu atau hanya bagian buduk pada pantat mereka. Jika hanya mengambil bagian buduk dari kelima kucing tersebut, dan diberitahu kepada khalayak, maka khalayak bisa (jadi) berpendapat, bahwa semua kucing itu buduk. Jika Anda hanya mengambil dan membuat laporan seputar wajah kelima kucing tersebut, maka bisa (jadi) khalayak menganggap bahwa semua kucing adalah lucu. Jika dituntut masalah substansi mengenai hal tersebut, laporan Anda sebenarnya objektif saja, karena kucing tersebut memang benar adanya, lucu atau memiliki buduk.

Subjektfitas Anda menjadi kabur karena metode framing yang digunakan. Maka Anda dapat melenggang bebas dilindungi oleh yang mulia framing. Saya analogikan dunia sebagai kucing, buduknya sebagai sisi buruk atau peristiwa buruk, dan wajah lucunya sebagai kejadian baik, dan Anda berperan sebagai media massa. Kurang lebih begitu analogi dangkal dari framing. Lebih lengkap mengenai framing tidak akan saya jelaskan di sini, karena untuk mendapat ilmu tersebut, saya harus membayar sejumlah uang. Masa harus dibagikan secara gratisan!

Merujuk pada si-framing tersebut, saya menjadi sedikit lebih tenang. Karena dunia belum tentu seburuk yang digambarkan oleh berita. Bukan berarti tidak buruk, namun, belum tentu. Media massa atau berita pada dasarnya adalah bisnis. Silahkan berbicara dengan sandal saya jika kekeuh bahwa media massa bersifat mutlak fakta atau absolut objektif. Berita yang sepenuhnya bebas dari subjektifitas merupakan utopia. Hakikatnya memang seperti itu. Tetapi pada praktiknya, tidak mungkin. Selama masih ada pemilik modal, politik redaksi, dan butuh duit, maka media massa manapun tidak ada yang terbebas dari kepentingan. Baik itu kepentingan untuk si boss, atau kepentingan untuk perut sendiri. Kecuali jika Anda mau membuat media massa yang tidak membutuhkan pendapatan, tidak butuh iklan, tidak ditonton pun tidak apa, dan tidak akan ada yang ingin seperti itu.

Oleh karena itu, media massa melalui framing, hanya menyajikan berita-berita yang “menjual” saja. Jika tidak menjual, tidak akan disajikan. "Menjual" dalam hal ini saya pisahkan dari nilai berita atau news value, karena memang keduanya tidak selalu berkaitan. Menjual dalam pengertian saya adalah kemampuan untuk menarik penonton, pemirsa, pendengar, dan pembaca untuk menonton, mendengarkan, menyimak, dan membaca media massa tertentu. Berita dengan isu yang tidak menjual, tidak akan disajikan. Ya jelas dong, makanan yang tidak laku, tidak akan dipajang di etalase. Saya tidak berhak mencap hal tersebut salah atau benar. Terlebih merujuk pada jargon paling populer dalam dunia jurnalistik: bad news, is good news. Dalam kacamata saya, berita sudah menjadi lahan bisnis sepenuhnya. Untuk urusan duit, semua bisa jadi lumrah. Ya kan? Ya dong?

Secara kebetulan yang terjadi belakangan adalah, isu yang laku bagi khalayak adalah isu mengenai kekerasan, pembunuhan, bom, teroris, dan carut-marut politik. Maka, sebuah acara berita tidak akan pernah lepas dari isu-isu demikian. Masyarakat madani keranjingan atau memiliki obsesi berlebih terhadap hal yang kontroversi dan bombastis. Kegemaran khalayak akan hal tersebut merupakan lumbung uang bagi para pemilik media massa. Maka, selama penikmat bad news masih setia, selama itu pula televisi akan menyiarkan berita buruk. Pun jika bukan karena ingin berjualan, jangan lupakan politik redaksi yang dianut sebuah media massa. Misalkan sebuah kantor media massa terus-menerus menyiarkan tentang kegiatan seorang Politikus X meskipun berita tersebut tidak laku dijual. Namun karena politik redaksi yang dianut kantor media massa tersebut mengharuskan menyiarkan berita tentang si Politikus X secara berkala, maka mau-tidak mau hal tersebut dilakukan juga. Kalau tidak begitu, nanti dapur kita nggak ngebul, pak. Iya sihhh... Lupakan.

Dunia sebenarnya tidak segawat yang ditayangkan oleh televisi. Justru di balik kegawatan yang ditawarkan tersebut, kantong para pemilik media semakin menggembung. Dunia memang gawat, tetapi bukan berarti stok orang baik dan hal-hal baik telah habis. Masih banyak hal indah di dunia ini melebihi buaian realitas fana yang ditampilkan oleh televisi dan berita. Karena menurut Pramoedya, kehidupan ini seimbang, barang siapa yang hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Dan barang siapa yang hanya memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.

Yang pasti sekarang, Anda harus memastikan, apakah suami atau istri Anda benar-benar sesuai jenis kelaminnya atau tidak?


Bandung, 15 Juli 2016