Daiwi Sampad

9.2.16

Bangsa Tinta

Siapa bilang nation Indonesia bangkit melalui bambu runcing? Kalau iya, selamat berarti Anda termasuk ke dalam golongan pemuda yang dibentuk oleh buku sejarah. Memang, ya, bambu runcing pernah menjadi senjata bagi rakyat Hindia untuk melawan bangsa penjajah. Tapi itu tidak lantas membikin Belanda terpukul mundur dan pulang ke negerinya. Bambu runcing kalah telak oleh meriam dan senapan-senapan modern bangsa Belanda.

Siapa sangka, Indonesia lahir melalui tinta? Ya, tinta dan pena. Melalui kata-kata, melalui tulisan, anak rohaniyah dari para penulis, juga jurnalis. Yang muncul pada benak Anda pastilah, bambu runcing saja tidak mampu melawan senapan, apalagi tinta, terlebih kata-kata?

Oo, tunggu dulu. Adalah seorang Raden Mas yang berusaha menanggalkan segala identitas kejawaannya demi menjadi ‘manusia bebas’. Berbekal dengan sikap keras dan idealisnya, ia banyak menulis pada surat-kabar Belanda pada zamannya, sekira akhir abad ke-19. Tulisan-tulisan awalnya ia ambil dari kejadian di sekitarnya, kemudian dikemas dalam bentuk cerpen. Berkat relasinya dengan banyak Belanda yang bekerja di surat-kabar, tulisan-tulisan sederhananya dalam bahasa Belanda dapat diterbitkan. Dibaca oleh banyak orang.

Semakin berkembang, baik pola pikir, maupun keadaan di sekelilingnya yang tidak memihak kepada pribumi, tulisannya pun semakin ‘tajam’. Artikel dan essai mulai ia tuliskan pada beberapa media cetak. Gaya, dan tema tulisannya pun bergeser, kali ini lebih banyak mengangkat hak-hak kaum tertindas, pribumi, rakyat jelata, buruh. Ketidak-adilan yang dialami oleh para petani gula, cikal-bakal kebebasan kaum hawa, merupakan pokok tulisannya belakangan.

Kendala baru ditemuinya ketika ia giat menuliskan pembelaan terhadap hak-hak kaum petani gula. Para petani gula yang ketika itu dirampas tanahnya untuk dijadikan ladang tebu, juga tidak diberi kehidupan yang layak, dirasa tidak layak masuk koran. Hampir semua pemilik media adalah Belanda. Belanda pula-lah yang memiliki modal untuk pabrik gula Jawa yang terkenal di seluruh dunia. Memuat tulisan tentang hak-hak kaum petani, berarti membunuh pabrik gula yang merupakan salah satu pemasukan bagi negeri Belanda.

Berbagai macam reaksi muncul dari kalangan masyarakat, tidak peduli bawah atau atas. Beragam ditumpahkan, pro dan kontra. Belanda menilai tulisannya ‘berbahaya’. Tulisan-tulisannya yang ditolak, kemudian diterima oleh beberapa surat-kabar Belanda yang memihak kepadanya. Perlu diketahui, tidak semua londo bermental penjajah. Setidaknya, ada yang menginginkan kesejahteraan bagi pribumi. Meski begitu, kekuasaan Belanda yang lebih kuat, adalah mereka yang menilai tulisannya berbahaya. Pendidikannya sebagai dokter pun harus putus akibat kegiatannya menyuarakan aspirasi melalui tulisan.

Tidak puas hanya dengan menulis, ia mendirikan sebuah organisasi. Organisasi pertama yang didirikan oleh Pribumi di tanah Hindia-Belanda, Indonesia. Jika kalian menilai organisasi pertama adalah Boedi Oetomo, selamat, sekali lagi, kalian sudah menjadi budak buku sejarah sekolahan. Organisasi yang ia dirikan bernama Syarikat Prijaji. Rupanya, batinnya masih haus kendati sudah mendirikan sebuah organisasi untuk melindungi pribumi. Kemudian, ia mencetuskan berdirinya sebuah surat-kabar pribumi pertama kali, yaitu Medan Prijaji.

Medan Prijaji lahir di tengah kecamuk dan genggaman tangan besi pemerintahan Kolonial Belanda. Medan Prijaji merupakan wadah bagi pribumi untuk “berkeluh-kesah” atas ketidak-adilan yang diterima oleh mereka. Sebaga problematika pribumi ditumpahkan ke dalam Medan Prijaji. Koran milik pribumi pertama ini juga bukan berjalan mulus. Segala tindakan untuk memberangusnya datang dari kanan-kiri. Selain menampung aspirasi pribumi, Medan Prijaji juga menyediakan satu rubrik khusus untuk penyuluhan hokum gratis. Agar para pribumi tidak buta terhadap hukum yang berlaku.

Ia menghendaki bahasa yang digunakan oleh Medan Prijaji adalah bahasa Melayu. Bukan Jawa, Belanda, Arab, atau tiongkok. Karena menurutnya, Hindia adalah bangsa yang multi-etnis. Tidak boleh ada kotak-mengkotak dalam urusan bahasa. Bahasa Medan Prijaji adalah milik bangsa Hindia. Harga mati. Tidak boleh tidak. Ideologi yang ditularkan olehnya adalah asas satu-padu, golongan senasib yang dipersatukan oleh kaum terjajah, yang ia sering sebut sebagai “bangsa yang terperentah”.

Dirinya, meski terlahir sebagai kaum bangsawan Jawa, ia tidak menghendaki tradisi Jawa yang harus membungkuk di hadapan orang yang berkedudukan lebih tinggi. Di matanya, semua manusia sama. Semua manusia dilahirkan sebagai manusia yang bebas. Bebas menentukan hendak kemana, dan hendak jadi apa dirinya, asalkan tidak merampas hak orang lain.

Tidak lain Ia adalah (Raden Mas) Tirto Adhi Soerjo. Orang yang terlupakan sebagai penggerak dan pemersatu bangsa ini untuk pertama kalinya. Buku sejarah bahkan merampas nama Syarikat Prijaji (1906) sebagai organisasi pribumi pertama, kemudian digantikan oleh Boedi Oetomo (1908). Dirinya hanya dikenal sebagai “Bapak Pers Indonesia” setelah pengkajian selama 100 tahun, tidak lebih.

Media massa belakangan, selalu berdalih menuntut kemerdekaan padahal menunggu awal bulan, dan mencak-mencak jika uang makan tidak turun. Kemerdekaan pers seperti apa? Menindas kaum lemah dan membungkuk pada pemangku modal? Menangislah kalian yang hanya mengenal Karni Ilyas, Tina Talisa, atau bahkan Desi Anwar.

Tirto pada Medan Prijaji memberikan slogan, bahwa surat-kabarnya hadir; “Bagi raja-raja, bangsawan baik usul dan pikiran (kaum intelektual), priyayi, hingga saudagar yang dipersamakan dengan Anak Negeri di seluruh Hindia Belanda."

Selamat hari pers nasional!


Bandung, 9 Februari 2016