Daiwi Sampad

7.1.16

Pahlawan Kelas Pekerja, dan Lennonisme

Buruh, selalu senantiasa berada pada rantai paling bawah dalam proporsi pemberitaan media, maupun bagi kaum yang menyebut dirinya lebih intelek. Pesan-pesan yang ingin disampaikan para buruh hanya nyangkut di permukaan, lalu tenggelam dengan sendirinya. Kapitalisme di negara-negara Barat berkembang sangat pesat pada abad ke-19. Pengetatan disiplin bekerja, upah yang minim, serta buruknya kondisi bekerja—seperti perlakuan kasar—membuat kaum buruh mengadakan perlawanan.

Seorang filsuf pada abad ke-19, Karl Marx mengajarkan bagaimana kaum buruh mendobrak kapitalisme melalui paham komunis. Komunisme mengajarkan bagaimana perlawanan yang seharusnya dilakukan oleh kelas pekerja terhadap kejamnya rezim penguasa. Marx menggambarkan sebuah keadaan di mana para pemilik modal mendominasi sistem produksi. Pemilik modal memonopoli waktu dan tenaga para buruh untuk memenuhi pundi-pundi kapital. Marx memberikan istilah kaum proletar bagi kaum buruh yang tertindas. Menurutnya, kaum proletar harus merebut kekuatan produksi dari para Borjuis, untuk kemudian mengendalikan sistem produksi bersama-sama, menciptakan kesejahteraan, dan menghapus kesenjangan.

Bak semut melawan gajah, perlawanan-perlawanan kelas buruh terhadap kapitalisme membutuhkan usaha yang alot. Tidak mudah bagi kaum buruh untuk mendapatkan posisi yang layak di mata pemilik modal, terlebih pengakuan di mata dunia. Di era modern pun tidak sepenuhnya buruh merasa merdeka. Di Indonesia sendiri, banyak anggapan bahwa buruh adalah pekerja yang sekadar mengandalkan otot ketimbang otak. Hingga tahun 1970, seorang musisi nyentrik yang kerap dijuluki musisi-filsuf mengeluarkan sebuah lagu berjudul “Working Class Hero”, pada album single nya yang diberi nama Plastic Ono Band.

Perhatian-perhatian yang kurang, dan pembentukan pola pikir oleh kapitalisme membuat pandangan kita—setidaknya saya—menjadi tidak ngeh dengan situasi pelik yang dialami kaum buruh. Konsumsi media dan teori kacangan yang berlebihan mengakibatkan terjadi sebuah pemlintiran makna atas konsep buruh, dan kaum pekerja (working class). Pekerja-pekerja lainnya yang beroperasi di balik meja, mendapat penyempitan konotasi untuk menggambarkan kaum buruh. Oleh karena dasar-dasar tersebut, John Lennon, nama si musisi nyentrik tersebut, menyebutkan: a working class hero is something to be.

Lennon menyampaikan, bahwa paradigma mengenai kelas buruh harus diubah. Ia mengatakan bahwa kita semua adalah kelas pekerja. Tidak ada pengkotakan terhadap kelas pekerja dengan kelas menengah atau ke atas. Dinding-dinding pembatas yang selama ini membuat pemikiran kita berbeda dengan mereka yang dianggap sebagai pekerja otot, harus diruntuhkan.
As soon as your born they make you feel small
By giving you no time instead of it all
Till the pain is so big you feel nothing at all
Working Class Hero is something to be
Melalui lirik tersebut, Lennon menampar kita yang selalu menganggap gelar akademis yang berderet di depan dan belakang nama, dapat membuat kita terhindar dari label “kelas pekerja”. Rasa gengsi yang tinggi akibat pengaruh kapitalisme membuat kita menganggap pekerjaan di balik meja lebih mulia ketimbang mereka yang memikul palu, atau arit. Dan Lennon muncul dengan mencoba memutar balik otak kita yang sempat jungkir-balik, membetulkan pada posisinya seharusnya.
They hurt you at home and they hit you at school
They hate you if you're clever and despise a fool
'Till you're so fucking crazy you can't follow their rules
Working Class Hero is something to be
Sejarah kelam kelas pekerja menjadi begitu hina disandingkan dengan berbagai protes yang dilakukan oleh kaum buruh. Tak dipungkiri, semua orangtua menginginkan anaknya mengenyam pendidikan yang berat agar terlepas dari label “kelas pekerja”, atau buruh. Padahal, Lennon mengatakan bahwa kita semua adalah kelas pekerja. Menurut Lennon, pemikiran kita terbentuk akibat tayangan televisi dan media yang didominasi oleh kaum kapital, sehingga predikat buruk terhadap buruh sudah tertanam di otak kita masing-masing. Pekerjaan yang nyaman—di balik meja dalam ruangan berpendingin, serta dasi melilit di leher—membuat kebanyakan dari kita merasa dirinya sudah terlepas dari perdikat kelas pekerja.
And you think you're so clever and classless and free (?)
But you're still fucking peasants as far as I can see
John Lennon, dalam lagunya meneruskan pemikiran Karl Marx. Working Class Hero adalah sebuah ajakan untuk menyadari diri kita dalam struktur masyarakat. Pada liriknya, Ia menggambarkan “Pahlawan Kelas Pekerja” adalah seorang yang berani memulai kesadaran dan tidak tebuai dalam kelas imajiner dan kenyamanan yang memabukan. Lennon tidak pernah berbasa-basi dalam lagu-lagunya, Ia mengemukakan idenya secara eksplisit, yang cenderung berbahaya bagi kapitalisme. Perjuangan Lennon dalam lagunya mungkin hanya kita anggap sebagai puisi yang memiliki nada. Mungkin sistem kapitalisme telah tertanam begitu kuat sehingga kita tidak merasa terganggu atas kritik dalam lagu, atau mungkin masyarakat tidak pernah memberikan perhatian pada kata-kata orang lain, dengan hanya menganggap sebagai objek di luar dirinya.

A working class hero is something to be. May Day!


Bandung, 30 April 2014