Daiwi Sampad

6.2.15

Dapur Redaksi

Belakangan saya menonton sebuah film besutan Los Angeles yang diberi tajuk Nightcrawler hasil rekomendasi seorang kawan. Pertama kali mendengar judulnya, saya pikir film tersebut bercerita tentang superhero yang kerap beraksi saat malam hari, atau film tentang kehidupan pelacuran di tengah malam. Pikiran saya mereka-reka. Namun, ketika melihat synopsis film tersebut di salah satu website wajib pecinta film, bayangan saya rontok. Film ini bercerita tentang seorang jurnalis.

Jake Gyllenhaal, tokoh utama pada film ini, yang saya kenal pertama kali melalui film Donnie Darko, berperan sebagai jurnalis dadakan akibat kondisinya yang tengah menganggur. Hmm, terdengar familiar bagi saya. Film ini diawali ketika Jake yang memerankan tokoh Louis Bloom, tengah mencuri kawat pagar untuk kemudian dijual kepada penadah barang rongsokan. Bukan tanpa alasan Louis mencuri kawat atau besi-besi tua. Dirinya sedang menderita karena tidak memiliki pekerjaan, sehingga terpaksa melakukan pencurian-pencurian “kecil” yang membuatnya harus bersitegang dengan polisi.

Beberapa adegan berlalu, Louis yang tengah putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja melihat sebuah kecelakaan mobil. Dibekali rasa pensaran, ia turun dari mobilnya untuk melihat kejadian tersebut dari dekat. Tidak butuh waktu lama, segera muncul beberapa orang wartawan lengkap dengan kamera video, meliput kecelakaan mobil tersebut. Louis segera tertarik melihat para wartawan yang cekatan dalam mengabadikan gambar insiden tersebut. Hal tersebut menginspirasinya untuk menjadi seorang wartawan. Berbekal sepeda curian, ia berhasil membeli kamera video pertamanya.

Singkat cerita, Louis belajar menjadi wartawan secara otodidak. Ia bergerak di malam hari. Menelusuri jalan-jalan L.A. untuk mencari kejadian yang dapat dijadikan berita. Hasil rekaman tersebut ia jual kepada salah satu stasiun televisi berita, dengan harga yang tentu tidak tinggi. Tak apa pikirnya, asalkan cukup untuk makan. Kegiatan memburu berita di malam hari menjadi rutinitasnya. Ia merekam kejadian, menjualnya, kemudian ditayangkan. Begitu seterusnya hingga berita-berita Louis akhirnya selalu menjadi berita hangat untuk ditayangkan di pagi hari.

Bukan, bukan film ini yang akan saya bahas. Dapur redaksi kantor media massa yang akan saya bahas pada tulisan ini. Jurnalis hari ini secara gamblang digambarkan pada film karya Dan Gilroy ini. Ada beberapa poin, sebenarnya banyak poin, yang menarik perhatian saya. Poin pertama, Louis yang tengah meliput Tempat Kejadian Perkara (TKP) sebuah penembakan di rumah warga sipil. Ketika itu, ia sempat mengatur posisi foto korban (ayah, ibu, dan seorang bayi) yang tertempel di pintu mesin pendingin menjadi lebih dempet dengan bekas tembakan. Menggeser foto tersebut ke dekat bekas tembakan dimaksudkan agar gambarnya lebih dramatis jika ditayangkan.

Poin kedua, Louis sempat menggeser posisi mayat dari sebuah kecelakaan mobil. Tujuannya, lagi-lagi, agar video yang ia hasilkan lebih dramatis. Lebih berdarah. Menurutnya—dan kantornya—video dengan banyak darah, akan lebih menarik minat pemirsa. Anggapan tersebut tidak salah jika mengingat motto slengean dari para jurnalis: Bad news, is good news. Berita buruk, semakin banyak mayat, semakin banyak yang mati, semakin banyak darah, semakin banyak pula pemirsa yang tertarik kepada berita tersebut.

Kebiasaan tersebut menjadi lebih parah ketika Louis membuat berita itu sendiri. Ia merancang sebuah kecelakaan agar dapat diliput. Tentunya tidak ada seorangpun yang mengetahui hal ini. Video-video liputan Louis dengan cepat memiliki posisi penting di stasiun televisinya. Ia dikenal sebagai wartawan yang selalu memiliki gambar “menarik”.

Kontruksi media. Dalam hal ini, media yaitu Louis mengkonstruksi sebuah kejadian demi rating. Segala hal diupayakan oleh media untuk menarik profit, uang, keuntungan, yang dihasilkan oleh berita-beritanya. Segala berita dibentuk dan dikemas seapik mungkin demi memuaskan rasa haus informasi pemirsa. Baik-buruk tidak jadi soal. Kalau perlu, tumpahkan saus tomat di dekat mayat agar terlihat lebih berdarah di dalam bingkai kamera.

Nightcrawler hanyalah contoh kecil dengan skala dampak yang tidak begitu luas. Saya ambil contoh bagaimana dapur pers di Indonesia mengkonstruksi berita. Mengapa lagi-lagi Indonesia yang dijadikan contoh? Karena saya belum pernah tinggal di Los Angeles. Di sini, di Indonesia, dapur pers tidak jauh berbeda dengan apa yang dikerjakan oleh Louis. Hanya saja, menurut kacamata saya yang amatir, dampak yang dihasilkan lebih fatal.

Media di Indonesia, entah mengapa, selalu kompak dalam membuat bingkai sebuah berita. Saya ambil cerita salah seorang dosen di kampus. Ia bercerita, ketika terjadi peristiwa pengeboman di Jakarta, yang kini lebih dikenal dengan nama “Bom Mega Kuningan 2009”, ada salah satu televisi yang memberitakan bahwa suara ledakan terdengar hingga lima kilometer jauhnya dari titik ledak. Pemberitaan tersebut kontan membuat geger masyarakat. Mereka dibuat ngeri bahwa bom tersebut sangatlah dahsyat sehingga suara ledakannya terdengar hingga lima kilometer.

Dosen saya, yang ketika itu masih menjadi wartawan, tidak menelan mentah-mentah kabar mengenai suara ledakan yang hingga lima kilometer itu. Ia dan beberapa wartawan melakukan survey kepada warga yang tinggal di sekitar kejadian. Di radius satu kilometer, para warga mengaku mendegar ledakan. Di radius dua kilometer para warga mengiyakan mendengar suara dentuman, namun tidak begitu jelas. Di radius tiga kilometer, warga tidak mendengar suara apapun. Tidak suara meletus, tidak suara dentuman, apalagi suara bom meledak. Hasil survey tersebut, suara ledakan terdengar hanya di dalam radius dua kilometer saja.

Pertanyaannya sekarang, kenapa televisi tersebut memberitakan bahwa suara ledakan terdengar hingga lima kilometer? Jawabannya, agar dramatis. Dampak yang dihasilkan? Kepanikan massa. Lain kasus, kali ini politik. Media massa berhasil membungkus politikus bermental serigala dengan bulu dari kulit domba. Tidak terhitung berapa setan yang dijadikan malaikat, atau malaikat yang dijadikan setan oleh media massa.

Dapur redaksi memang lebih canggih dibandingkan dapur restoran termahal sekalipun. Bumbu-bumbu, racikan rahasia, serta penyajian yang dibuat cantik atau buruk sedemikian rupa bisa diolah dengan ciamik di dapur redaksi. Uang, kepentingan, dan tumpangan pihak berduit menjadi pisau bermata dua dalam dunia pers.

Ketika film Nightcrawler sudah menampilkan tampilan credit title, saya jadi berpikir, apakah yang dilakukan Louis adalah tindakan benar atau salah. Apakah seharusnya media massa memang dibuat sebagai drama berkedok fakta, atau fakta yang dikemas oleh drama?


Bandung, 6 Februari 2015