Daiwi Sampad

@adiapuja

15.3.19

Membaca Isi Kepala Tuhan

Kau terlalu melibatkan diri pada hal
Yang seharusnya remeh temeh

Terjebak dalam pusaran perkara
Yang kau tahu akan melumatkan

Bersibuk mendaulat hal
Yang seharusya menjadi urusan mereka

Jemawa dengan sesuatu
Yang kau temukan sembari berak

Sambil mendebik dada;
Milikku ya milikku, milikmu yang milikku

Memotong lidah yang mengecap asin
Ketika kau sebut manis

Gawatnya kau merasa pernah berbagi
Segelas kopi dengan Tuhan

Mengambil peran Tuhan

Melacurkan nama Tuhan

Merasa pernah membaca isi
Kepala Tuhan

Jakarta, 2019

Akar Rumput

Kami akar rumput
Yang kerap terinjak-injak
Bila merunduk
Yang kerap dicerabut
Bila mengganggu

Kami akar rumput
Yang menangis
Tak digubris
Yang dibungkam
Bila bersuara

Kami akar rumput
Yang tak boleh mendendam
Pada tirani
Yang dipaksa menghamba
Pada oligarki

Kami akar rumput
Yang akan marah
Yang bersimbah duri dan bisa
Yang menancap pada kaki kalian

Tapi kami akar rumput
Yang bila kami mengandung amuk
Dan bergabung dalam
Satu barisan

Mampu buat pohon beringin
Membaham tanah

Bandung, 2019

15.2.19

Hitam

kami diam dalam hitam
di muka istana yang gagah
bagai semut mengetam dendam
berharap para belalang tergugah

saban kamis kami berpayung harap
seia-sekata menuntut yang sama
setiap itu kuping penguasa kedap
lupakan hilangnya nama-nama

wahai penguasa ibu-pertiwi!
kami butuh sebuah warta
tentang anak-anak kami
yang belum juga kembali ke gerha

jika kalian terlena dengan tirani
setidaknya sampaikan salam kami
dan tolong pastikan
mereka tidak terlambat makan

jika mereka sudah tak bernyawa
katakan di mana mereka ditanam
kami dan mereka sudah lama tak bersua
sejak sembilan-delapan silam

Bandung, 2019

Di Rumah Sakit Bersalin

Belakangan, semenjak istri saya mengandung, saya menjadi rutin mengunjungi rumah sakit. Salah satu tempat yang paling saya hindari. Kini, minimal satu kali dalam satu bulan, saya harus mengunjungi rumah sakit bersalin: pemeriksaan rutin kandungan istri saya.

Ada yang berbeda ternyata dari rumah sakit "biasa" dan rumah sakit bersalin. Seumur-umur hanya dengan hitungan jari saya mengunjungi rumah sakit bersalin. Itupun dengan tujuan menengok kerabat yang baru lahiran. Selebihnya saya tidak pernah mengunjungi rumah sakit bersalin.

Di rumah sakit bersalin, ketika menunggu nama istri saya dipanggil untuk memasuki ruang periksa, saya menemukan kesan yang berbeda. Rumah sakit "biasa" umumnya memiliki kesan dingin, suram, sepi, pokoknya tidak menyenangkan. Seolah seluruh gedung RS diliputi perasaan cemas akan intaian malaikat pencabut nyawa.

Sebaliknya, di rumah sakit bersalin suasananya demikian ceria, hangat, dan berisik. Alih-alih menyeramkan, rumah sakit bersalin lebih seperti taman kanak-kanak. Bagaimana tidak? Di ruang tunggu para bocah berlarian sesuka hati mereka. Berteriak dan tertawa tanpa batasan. Tanpa harus merasa sungkan mengingat tempat tersebut berlabel "rumah sakit".

Para orang tua pun tidak kuasa melarang anak-anak mereka yang mendadak atraktif setelah bertemu kawan-kawan baru sebayanya. Tanpa harus berbasa-basi memperkenalkan diri, para bocah biasanya langsung klop. Bermain kejar-kejaran. Yang satu berperan sebagai polisi, dan lainnya sebagai penjahat. Bergulingan di lantai tanpa menghiraukan ocehan orang tuanya.

Selain kehadiran para bocah yang menghangatkan suasana, rumah sakit bersalin pun dilingkupi aura kebahagiaan. Mereka yang baru berpasangan dan menantikan anak pertama mereka nampak semringah. Bersiap bertemu calon anaknya yang terpampang dan bergerak lucu di layar USG.

Pancaran kebahagiaan juga berlaku bagi pasangan yang sudah memiliki 1-2 anak. Kehadiran calon anak yang dinanti akan menambah lengkap anggota keluarga mereka. Begitupun para kakek-nenek yang turut mengantarkan anaknya memeriksakan cucu mereka yang masih meringkuk di dalam rahim.

Nyaris tidak ada kesedihan di rumah sakit bersalin. Kalaupun ada seraut wajah murung di sini, itu karena lamanya menanti antrean. Selebihnya tidak.

Sebenarnya yang terjadi di rumah sakit bersalin tidak mengherankan. Sudah sepatutnya rumah sakit jenis ini diliputi rasa bahagia. Begitu banyak nyawa baru yang lahir di sini. Manusia-manusia baru yang siap dilepas guna mengarungi hidup. Seperti anak penyu yang dilepas induknya dan siap menyambut gulungan ombak.

Bekasi, Februari 2019

17.12.18

Belum Tentu Bahagia


di bawah temaram baskara
para Dewa menangis
mengutuk jiwa
yang nyaris kalis

di alun rantau Benoa
pengayuh pawana setia
sambut pianak iwak
dalam pelukan jemala

Hyang Jagat tersedan
jumpa anak para nelayan
memanah obsidian
sebab laut dipunggungi ikan

laut Dewata elok kirana
kata para pelangkah congkak
laut kini tak lagi palamarta
kata penjala belanak

Batara sedu saksikan Bali
yang kian dalam karena digali
yang acap gaduh karena reklamasi
tanpa ucap suksma, dan mewali

Klungkung, 2018