Daiwi Sampad

@adiapuja

15.11.18

Kacang Mete


Menunggu tidak pernah se-menyebalkan ini. Meski usiamu kini belum lebih dari satu sobekan kalender. Tubuhmu lagi pasti masih sebesar kacang mete. Begitu kecil. Meringkuk seorang diri di dalam rahim ibumu.

Taukah kamu, nak? Kurt Cobain juga menamai anaknya dengan “Bean”—kacang. Kelak kamu harus tahu siapa Kurt Cobain.

Nak. Kamu tahu, kini dunia sudah tidak seindah lagu Louis Armstrong, yang kelak akan kamu dengarkan.

Dunia begitu kacau ketika kau hadir nanti. Ancaman teror mengintai, perang di berbagai tempat, krisis ekonomi, wabah penyakit, fanatisme umat beragama, pemanasan global, gunungan sampah, dan lainnya. Mengerikan. Sungguh.

Untuk itu, maafkan kami—aku dan ibumu—nak. Bukan kami bermaksud menyeretmu dalam pelbagai permasalahan dunia ini.

Kamu boleh menyebut kami egois, karena melahirkanmu dalam kondisi yang sangat mengerikan seperti ini. Itu wajar. Pikiran seperti itupun kerap menggangguku ketika bertanya tentang mengapa aku dilahirkan.

Jangan khawatir, nak. Masih banyak hal indah yang dapat kami tunjukkan padamu. Kamu harus mencoba mendengarkan Sigur Ros sambil menikmati secangkir teh hangat, selagi hujan mengguyur di luar. Kamu juga harus mencoba nikmatnya membaca buku di sore hari sambil memerhatikan langit berubah menjadi jingga secara perlahan.

Aku dan ibumu akan membagikan itu padamu. Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan memapahmu menuju jalan yang sulit, kemudian melepasmu, hingga kamu tersesat, dan mengetahui betapa merindukannya sebuah rumah.  Kita akan bertualang, nak!

Anakku, aku akan menunggu sampai saat itu tiba. Tumbuhlah dengan kecepatan yang tidak kami duga. Beri kami kejutan. Aku akan menunggu hingga tangismu pecah membelah kamar bersalin. Masih sebesar kacang mete ukuran tubuhmu kini, nak, tapi kamu sudah mampu mengajariku cara untuk bersabar.

Jaga ibumu nak. Kamu akan bersama dia mulai saat ini hingga selamanya. Jagalah dia dengan tekadmu yang sekeras batu. Kamu boleh ketuk dinding perutnya untuk mengabari kami jika semuanya baik-baik saja di dalam sana.

Sampai jumpa beberapa bulan lagi, petualangan hebat sudah menantimu.

Anakku. Jika kamu membaca tulisan ini, artinya kamu sudah cukup pintar untuk mampu membaca. Ceritakan kembali padaku surat sederhana ini jika nanti kedua mataku sudah terlalu tua untuk membaca.


Bogor, 15 November 2018


21.8.18

Butuh



Para petani butuh sawah
Buat cipta sebutir antah
Tapi sawah terdesak musnah
Dibikin rumah gedung mewah

Para buruh butuh pabrik
Buat bungkam perut berisik
Tapi pabrik larut mencekik
Harga-harga semakin naik

Para nelayan butuh solar
Buat sore hari berlayar
Tapi hutang tak terbayar
Saban hari gulung layar

Para aristokrat butuh kawula
Buat setapak menuju istana
Pemilu tinggal sehasta
Sila pilih yang kalian puja

Bogor, Agustus 2018

28.2.18

Bedebah

Jika suatu waktu kita berjumpa. Tolong sapa aku. Sebagai seorang bedebah yang pernah mampir di harimu. Meski hanya sedetik. Bisikkan padaku. Bahwa kita memang tidak seharusnya bersama. Katakan padaku. Bahwa tidak seharusnya kita saling mengenal.

Kamu boleh maki aku. Umpat aku. Dengan kata terkasar yang mampu kamu ucapkan. Lakukan itu, jika dengan memaki dan mengumpat mampu melunaskan hutang rinduku. Aku tidak akan membalas dengan suatu patah katapun. Aku hanya ingin memandang bibirmu yang angkuh bergerak dengan cepat. Berharap ada sedikit sisa senyum yang tanpa sadar kamu bagi padaku. 

Maka, akan kuceritakan padamu. Tentang betapa tersiksanya mendambamu.


Bandung, Desember 2017

1.12.17

Mengapa Kita Makan Ayam?

Mengapa kita makan ayam?
Tanya anak pada bapaknya.
Karena ikan mahal, nak.
Tapi, sanggah si anak.
Kita ini nelayan, pak.
Protes.
Sudah kubilang, nak.
Ikan mahal.

Bandung, Desember 2017

6.10.17

Cacing Tanah

Sumber Gambar : riaurealita.com

Kenangan itu merambati lekuk-lekuk arteri. Perlahan. Pelan. Terbawa oleh darah yang dipompa buru-buru oleh kardia. Serupa piston sepur yang diperbabu tanpa rehat barang sejenak. Kenangan itu membalut erat serupa musculus yang membebat belulang. Ketat. Layaknya petugas terminal yang menyelia barang bawaan para calon penumpang. Seolah tidak diizinkan kenangan itu menyusup melalui pori-pori yang kemudian menguap bercampur polusi udara ibu kota.

Kenangan itu adalah racun. Adalah toxic yang akan berbuah kanker jika dipiara. Adalah candu yang kuasa binasakan impresi. Adalah rabun yang samarkan netra. Adalah cendana pada akasia. Adalah landlord pada proletar. Adalah Belanda pada Hindia. Adalah Tunggul Ametung pada Tumapel. Adalah potas pada gereh.

Aku pernah dihinggapi kenangan yang bertransformasi menjadi rindu. Aku pernah rasakan rindu sepahit empedu. Rindu yang tak berbalas. Rindu yang jalari waktu yang bergerak perlahan. Yang membunuh jika dibiakkan, namun terlalu sayang untuk dibiarkan binasa. Sebuah rindu yang tidak kuinginkan keberadaannya. Aku tidak tahu mana yang lebih digdaya. Apakah diriku. Apakah rasa rindu ini.

Aku tidak kuasa menahan rindu yang terasa getir ini. Begitu pahit. Begitu menyakitkan.

Terdengar sapaan dari ujung sana. Suaranya. Aku menyerah. Kumatikan ponsel.


Bandung, Januari 2017