Daiwi Sampad

21.8.18

Butuh



Para petani butuh sawah
Buat cipta sebutir antah
Tapi sawah terdesak musnah
Dibikin rumah gedung mewah

Para buruh butuh pabrik
Buat bungkam perut berisik
Tapi pabrik larut mencekik
Harga-harga semakin naik

Para nelayan butuh solar
Buat sore hari berlayar
Tapi hutang tak terbayar
Saban hari gulung layar

Para aristokrat butuh kawula
Buat setapak menuju istana
Pemilu tinggal sehasta
Sila pilih yang kalian puja

Bogor, Agustus 2018

28.2.18

Bedebah

Jika suatu waktu kita berjumpa. Tolong sapa aku. Sebagai seorang bedebah yang pernah mampir di harimu. Meski hanya sedetik. Bisikkan padaku. Bahwa kita memang tidak seharusnya bersama. Katakan padaku. Bahwa tidak seharusnya kita saling mengenal.

Kamu boleh maki aku. Umpat aku. Dengan kata terkasar yang mampu kamu ucapkan. Lakukan itu, jika dengan memaki dan mengumpat mampu melunaskan hutang rinduku. Aku tidak akan membalas dengan suatu patah katapun. Aku hanya ingin memandang bibirmu yang angkuh bergerak dengan cepat. Berharap ada sedikit sisa senyum yang tanpa sadar kamu bagi padaku. 

Maka, akan kuceritakan padamu. Tentang betapa tersiksanya mendambamu.


Bandung, Desember 2017

1.12.17

Mengapa Kita Makan Ayam?

Mengapa kita makan ayam?
Tanya anak pada bapaknya.
Karena ikan mahal, nak.
Tapi, sanggah si anak.
Kita ini nelayan, pak.
Protes.
Sudah kubilang, nak.
Ikan mahal.

Bandung, Desember 2017

6.10.17

Cacing Tanah

Sumber Gambar : riaurealita.com

Kenangan itu merambati lekuk-lekuk arteri. Perlahan. Pelan. Terbawa oleh darah yang dipompa buru-buru oleh kardia. Serupa piston sepur yang diperbabu tanpa rehat barang sejenak. Kenangan itu membalut erat serupa musculus yang membebat belulang. Ketat. Layaknya petugas terminal yang menyelia barang bawaan para calon penumpang. Seolah tidak diizinkan kenangan itu menyusup melalui pori-pori yang kemudian menguap bercampur polusi udara ibu kota.

Kenangan itu adalah racun. Adalah toxic yang akan berbuah kanker jika dipiara. Adalah candu yang kuasa binasakan impresi. Adalah rabun yang samarkan netra. Adalah cendana pada akasia. Adalah landlord pada proletar. Adalah Belanda pada Hindia. Adalah Tunggul Ametung pada Tumapel. Adalah potas pada gereh.

Aku pernah dihinggapi kenangan yang bertransformasi menjadi rindu. Aku pernah rasakan rindu sepahit empedu. Rindu yang tak berbalas. Rindu yang jalari waktu yang bergerak perlahan. Yang membunuh jika dibiakkan, namun terlalu sayang untuk dibiarkan binasa. Sebuah rindu yang tidak kuinginkan keberadaannya. Aku tidak tahu mana yang lebih digdaya. Apakah diriku. Apakah rasa rindu ini.

Aku tidak kuasa menahan rindu yang terasa getir ini. Begitu pahit. Begitu menyakitkan.

Terdengar sapaan dari ujung sana. Suaranya. Aku menyerah. Kumatikan ponsel.


Bandung, Januari 2017

19.9.17

Tapi Tidak dengan Mereka

Sumber Gambar : thelookofsilence.com

Aku tidak mengalami peristiwa berdarah itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipaksa menyaksikan komidi gambar memomokkan itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipatri dogma sesat oleh jenderal yang hobi tersenyum itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku hidup dalam paranoia atas lambang dua perkakas tani. Juga sebagian besar dari mereka.

Aku merayakan tumbangnya pohon cendana. Juga sebagian besar dari mereka.

Lalu.

Aku membaca apa yang sebelumnya sumbang. Aku mempelajari segala yang sebelumnya tabu. Aku merdeka dari kutukan bolor, congek, gagu, dan dari kegoblokan.

Tapi tidak dengan sebagian besar dari mereka.



Jakarta, September 2017