Daiwi Sampad

1.12.17

Mengapa Kita Makan Ayam?

Mengapa kita makan ayam?
Tanya anak pada bapaknya.
Karena ikan mahal, nak.
Tapi, sanggah si anak.
Kita ini nelayan, pak.
Protes.
Sudah kubilang, nak.
Ikan mahal.

Bandung, Desember 2017

19.9.17

Tapi Tidak dengan Mereka

Sumber Gambar : thelookofsilence.com

Aku tidak mengalami peristiwa berdarah itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipaksa menyaksikan komidi gambar memomokkan itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipatri dogma sesat oleh jenderal yang hobi tersenyum itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku hidup dalam paranoia atas lambang dua perkakas tani. Juga sebagian besar dari mereka.

Aku merayakan tumbangnya pohon cendana. Juga sebagian besar dari mereka.

Lalu.

Aku membaca apa yang sebelumnya sumbang. Aku mempelajari segala yang sebelumnya tabu. Aku merdeka dari kutukan bolor, congek, gagu, dan dari kegoblokan.

Tapi tidak dengan sebagian besar dari mereka.



Jakarta, September 2017

5.9.17

Pulanglah, Nak

Wiji Thukul Hilang Sejak 1998
Pulanglah, nak. Tidak kau rindu kumandang adzan yang bangunkan dengkurmu? Tidak kau rindu gemerisik dedaunan kering yang diseka bapak di jerambah? Tidak kau rindu gangsi asap dapur dari petanakan emakmu? Pulanglah, nak.

Pulanglah, nak. Tidak kau bengap oleh deru kendaraan yang menyambut pagimu? Tidak kau takut tersungkur dengan langkah-langkah yang cepat itu? Tidak kau iba pada dadamu yang bernas akan tuba perkotaan? Pulanglah, nak.

Pulanglah, nak. Bapak dan emak semakin bangkot. Tidak kami merindu surga tanpa bahagiamu. Tidak ada lahap nasi kami mamah tanpa bersamamu.

Pulanglah, nak. Meski tinggal nama. Meski tanpa nyawa.


Jakarta, September 2017

4.7.17

Banyak Lampu di Kota

Orang kota boleh jemawa mempunyai gedung-gedung penyabik angkasa. Orang kota boleh bangga pada gagahnya barisan pusat niaga yang mereka punya. Orang kota boleh tertawa kala awal bulan tiba. Orang kota boleh pongah ketika membopong hasil belanja membabi-buta. Orang kota boleh dabik-dada ketika anaknya justru tak pandai bahasa bunda. Orang kota boleh bangga ketika merasa berkuasa atas orang-orang desa.

Tapi, banyak lampu di kota. Orang kota tak bisa menyaksikan bintang ketika gelap tiba. Banyak asap di sana. Orang kota tak punya warna biru yang hiasi cakrawala. Banyak kendaraan bising di sana. Orang kota tak bisa nikmati nyanyian katak jantan gauli yang betina. 

Tidak ada embun pagi di kota. Yang ada hanya paranoia terlambat masuk kerja. Tidak ada air jernih di kota. Yang ada hanya sungai menghitam sisa buangan tinja. Tidak ada senandung burung di kota. Yang ada hanya tangis duka para melarat yang malu kembali ke desa.

Tidak ada apa-apa di kota. Selain lampu-lampu. Dan uang. Dan uang. Dan uang.

Dan uang.


Jakarta, Juli 2017

17.5.17

Orang-Orang yang Mengumpat

Ludah. Orang-orang meludah di mana-mana. Ludah di ubin. Ludah di tembok. Di bangku. Di meja. Di daun pintu. Jendela. Televisi. Surat-kabar. Ludah di mana-mana. Berserakan seperti di lantai stasiun atau terminal kelas E.

Pesing. Bau pesing. Orang-orang kencing berdiri di balik pohon atau tembok milik tetangga. Diam-diam. Mengendap dalam gelap. Membuang kencing yang hangat dan kuning pekat. Bau pesing. Orang-orang membuang kencing.

Menyembur. Orang-orang menyembur. Menyembur anjing dari mulutnya. Menyembur goblok dari mulutnya. Menyembur cinta dari mulutnya. Menyembur Tuhan. Menyembur doa. Menyembur kata binasa. Orang-orang menyembur. Seperti kobra yang terdesak di antara kawanan musang. Menyembur bisa.

Menggonggong. Orang-orang menggonggong. Menggonggong di belakang punggung kawan. Seperti anjing yang kena kebiri. Takut berkelahi sekaligus menahan berahi. Menggonggong seperti anjing yang takut kehilangan kawanan.

Mengumpat. Orang-orang pada mengumpat. Orang-orang akan mengumpat. Orang-orang mulai mengumpat. Orang-orang yang mengumpat.


Bandung, 28 April 2017